Si Raja Naipospos

Artikel ini dipetik secara utuh dari sebuah buku saku berjudul ‘BUKU SAKU MARGA BATAK’ oleh Doangsa PL Situmeang, dari cetakan pertama tahun 2009. Catatan: Angka Rumawi dalam kurung setelah nama-nama oknum merupakan nomor ‘generasi’.

  • Raja Naipospos (Rumpun Marga)
  • Oleh: Doangsa PL Situmeang

Menurut penuturan tua-tua di Sipoholon, silsilah Naipospos perlu diluruskan diatas kebenaran, agar posisi keempat marga yang bermukim di Sipoholon tidak dirugikan. Terlebih Sibagariang, putra sulung Si Raja Naipospos. Demikian juga jumlah dan urutan putranya. Buku W.M. Hutagalung, “Pustaha Batak – Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak”, merupa­kan jalan pintas yang dipakai kolonialis Belanda, meredam perguncingan yang berkepanjangan perihal “siabangan dan siadikan”, yang lazim ditemukan di tengah marga Batak.

Mereka menciptakan silsiIah baru. (Manuan buhu di na so ruas-menciptakan se­suatu yang bukan pada tempatnya). Dituliskan, Si Raja Naipospos mempunyai dua orang putra, yaitu: Toga Marbun dan Martuasame atau Toga Sipoholon. 

Karena buku ni merupakan catatan silsilah tertulis yang pertama, sehingga dijadikan sebagai rujukan. Kelihatannya, penyiapan buku ni dibiayai dan direstui kolonialis Belanda. Tua-tua Sipoholon sulit membantahnya. Takut dicap memberontak terhadap pemerintah Belanda. Akhirnya didiamkan saja, agar terhindar dan tekanan politik penjajah. Hasilnya menjadi seperti berikut: 

Toga Marbun (vi)         ¬ Marbun                   ¬ Lumbanbatu (vii)

                                                                              ¬ Banjarnahor (vii)

                                                                              ¬ Lumbangaol (vii)

Toga Sipoholon (vi)      ¬ Donda Hopol            ¬ Sibagariang (vii)

                                        ¬ Donda Ujung            ¬ Hutauruk (vii)

                                        ¬ Ujung Tinumpak     ¬ Simanungkalit (vii)

                                        ¬ Jamita Mangaraja   ¬ Situmeang (vii)

Yang benar adalah sebagai berikut: Si Raja Naipospos (v) berputra lima orang, bukan dua, tetapi dari dua orang isteri. Isteri pertama melahirkan putra yang diberi nama Donda Hopol, yang mewariskan marga Sibagariang (vi). Setelah dia dilahirkan, si isteri tidak melahirkan lagi (hol, bahasa Batak), beberapa saat lamanya. Karena orang Batak memerlukan banyak putra, maka Si Raja Naipospos kawin lagi sembunyi-sembunyi (sipsip – isteri kedua), yang memberinya seorang putra yang diberi nama Toga Marbun (vi). Kemudian, isteri pertama kembali melahirkan tiga orang putra berturut-turut, yaitu, Donda Ujung (vi), yang mewariskan marga Hutauruk, Ujung Tinumpak (vi), mewariskan marga Simanungkalit dan Jamita Mangaraja (vi), mewariskan marga Situmeang. 

Dengan demikian, kelima putra tersebut berada dalam satu generasi (vi) dan Donda Hopol harus tetap diperlakukan sebagai putra sulung. Oleh karena itu, Marbun atau pun marga yang diturunkannya, tidak boleh memanggil adik (anggidoli) kepada Donda Hopol atau Sibagariang, tetapi benar terhadap Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang. 

Oleh sebab itu, buku W.M. Hutagalung me­merlukan perbaikan: 

  1. Leluhur yang bernama Martuasame atau Toga Sipoholon, tidak pernah ada. Pencantumannya tidak lebih dan imanjinasi demi alasan sebagaimana disinggung diatas.
  2. Sipoholon adalah nama wilayah atau luat dalam bahasa Batak. Bukan nama orang dan manusianya tidak pernah ada di dunia ni.
  3. Si Raja Naipospos mempunyai lima orang putra, bukan dua.
  4. Marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang adalah generasi ke-vi, bukan ke-vii, dan tidak satu generasi dengan marga Lumbanbatu, Banjarnahor dan Lumbangaol, yang diturunkan Marbun.
  5. Buku W.M. Hutagalung mendudukkan ketujuh Rumpun Marga Naipospos dalam satu generasi. Itu salah besar!
  6. Jenjang kelahiran adalah pènentu tentang siabangan dan siadikan selaras dengan tradisi baku adat Batak. Bukan karena dilahirkan oleh isteri pertama, kedua atau ketiga (Batak itu patrilineal bukan matrilineal). Sebagai putra sulung, Donda Hopol dengan semua penyandang marga yang diwariskan, wajib diperlakukan sebagai siabangan (hahadoli) oleh semua warga marga yang diwariskan Toga Marbun, Donda Ujung, Ujung Tinumpak dan Jamita Mangaraja.
  7. Karena Toga Marbun lebih dahulu lahir dan Donda Ujung, Ujung Tinumpak, Jamita Mangaraja, walaupun dari isteri kedua, maka keturunan dan tiga nama yang disebut belakangan, wajib menerima kedudukannya sebagai siadikan.

Dengan penjelasan diatas, silsilah marga Rumpun Naipospos yang benar adalah sebagai berikut: 

Donda Hopol (vi)                     ¬ Sibagariang (vi)

Marbun (vi)                              ¬ Marbun (vi)       ¬ Lumbanbatu (vii)

                                                                                    ¬ Banjarnahor (vii)

                                                                                    ¬ Lumbangaol (vii)

Donda Ujung (vi)                      ¬ Hutauruk (vi)

Ujung Tinumpak (vi)               ¬ Simanungkalit (vi)

Jamita Mangaraja (vi)             ¬ Situmeang (vi)

  • Trackback are closed
  • Comments (4)
  1. Suka-suka kalian nya ku lihat berkomentar.
    Suka-suka kalian pula katakan buku W.M Hutagalung tidak benar.
    Buku yg terbit thn 2009 krya Doangsa Situmeang langsung jd kesempatan unutk kalian telan mentah-mentah.
    Tolong lah kawand-kawand, jgn kalian rusak garis adat yg telah diwariskan dengan omong kosong semua tsb diatas.
    Egois kali tulisan kalian diatas.
    Tetapi percuma saja, krn garis adat yg telah ada tak akan terusik dengan tulisan bodoh seperti diatas.
    Hargai pendapat aku bos, jgn pendapat kalian saja yang mesti di dengar dunia!.
    Oran-orang tua, dan opung2 Naipospos saja bbrapa abad lalu tak se bodoh dan serepot kalian-kalian semua.
    Ada yang tidak puas,?

  2. Saya lahir dan besar di Tarutung. Semua Pomparan Raja Marbun menyapa Ayah saya (Guru Djusman Pandapotan Hutauruk gelar Dj.P.H) dengan panggilan Amangtua atau Haha doli.
    Dan teman-teman (dongan magodang) sampai sekarang memanggil Abang dengan saya.
    Lalu ketika merantau ke Semarang, Abang Slamet Lumbanbatu (Alm) berceritera tentang Dongan sabutuha “Marbun” yang datang membantu Toga Sipoholon berperang dengan “Tobing?”. Pada waktu itulah ada padan “Siapa tuan rumah menjadi sihahaan supaya dengan Nyonya rumah” tidak sumbang.

    • Manuel Septiyanto Marbun
    • February 8th, 2012

    Ahh…. Gak sesuai dengan cerita Bapakku!!!

    • Anonymous
    • March 14th, 2013

    biarlah sejarah – sejarah tentang raja naipospos yang ada tetap seperti biasanya… yang penting keturunan raja naipospos tetap satu dan saling bantu membantu walaupun dimana dia berada. Kita keturunan raja naipospos jangan seperti marga – marga yang lain yang sampai sekarang masih mengikuti sejarah – sejarah marga mereka sehingga terjadi perpecahan di marga mereka. Hidup terus ompunta Raja Naipospos.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: