Sombaon Same

SOMBAON SAME SEBAGAI
“EXPRESSI” SEMBAH PADA NAIPOSPOS

Oleh:  Leopold Parulian Sibagariang

PENGANTAR

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi siapa sesungguhnya Martuasame.

Tempat yang dinamakan Sombaon Same terdapat di Sipoholon. Sombaon Same adalah singkatan dari Sombaon Martuasame. Martuasame adalah pribadi yang disembah, dipuja dan dihormati pada tempat tersebut. Di sana adalah tempat pemujuaan bagi Martuasame.

Dalam berbagai dialog, pendapat dan literatur, Sombaon Same atau Martuasame dipahami sebagai pribadi yang berbeda. Ada yang mengatakan bahwa nama tersebut adalah gelar Raja Naipospos. Yang lain mengatakan bahwa itu adalah nama dari Toga Sipoholon. Tidak juga ketinggalan, walaupun kecil, ada yang mengatakan bahwa gelar itu adalah panggilan untuk Sibagariang.

Tidak semua keturunan Raja Naipospos memandang sama tentang siapa Sombaon Same. Martua Same menjadi perbincangan diantara keturunan Naipospos. Argumentasi dan cerita dibuat untuk mendukung pendapat masing-masing. Karena itu, sangat relevan ditanyakan:

Siapakah sebenarnya Sombaon Same? Dan mengapa disembah?

MENGAPA DIPAHAMI BERBEDA?

Sombaon Same dipahami berbeda seperti dikatakan di atas didorong oleh arti dan makna sombaon yang hilang. Ada dua hal yang meruntuhkan makna dan arti sombaon yakni kedatangan Kekristenan dan kepentingan penjajah Belanda.

Kekristenan

Kekristenan datang ke tanah Batak berhadapan dengan agama Batak, termasuk kekuatan-kekuatan supra natural (roh-roh) yang mengitarinya. Karena itu, kita perlu sedikit menguraikan, apa itu agama Batak, roh-roh yang mereka hidupi pada masa lalu dan bagaimana Kekristenan mengahadapinya.

Menurut Mgr. Dr. Anicetus B. Sinaga, OFM Cap. bahwa agama Batak mengenal Allah yang transenden dan imanen yang mereka sebut dengan nama Mulajadi Nabolon. Warneck menguraikan bahwa Allah tinggi asli Batak adalah Ompu Tuhan Mulajadi. Raja Patik Tampubolon mengatakan bahwa Allah orang Batak adalah Ompu Mulajadi Nabolon.

Dalam agama Batak, Ompu Mulajadi Nabolon dipahami sebagai yang maha luhur dengan penuh kemesraan, belas kasih, akrab dan yang prihatin (solider) dengan ciptaan dan dunia, demikian diungkapkan oleh Dr. Anicetus. Untuk itu dibuat puja dan sembah kepada Mulajadi Nabolon. Puncak pemujaan tertinggi orang Batak kepada Mulajadi Nabolon adalah kurban raya horbo bius pada saat pesta mangase taon.

Itu adalah yang ideal sebagai sembah dan puja orang Batak kepada Mulajadi Nabolon. Namun, pada kenyataannya orang-orang Batak sangat tertarik juga pada sembah-puja kepada roh-roh. Menurut Warneck, lama sesudah penciptaan, tatkala manusia bertambah jahat, orang-orang Batak berdoa bukan saja kepada Mulajadi Nabolon dan Tri Dewata (Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan), melainkan lebih kepada roh-roh dan arwah orang-orang meninggal. Vergouwen lebih jauh lagi mengatakan bahwa pikiran orang Batak yang animistis lebih peka terhadap kegiatan roh atau begu.

Kekukutan-kekuatan destruktif disembah. Naga Padoha yang berada di banua toru, yang gencar mengintai untuk mematikan manusia yang berada di banua tonga, diberi gelar Raja Padoha. Itu berarti bahwa yang memberi dan membawa kekuatan destruktif itu diberi gelar raja, status terhormat, dan karenanya pantas “disembah”.

Dalam lingkup sembah-sujud kepada roh, ada sombaon. Sombaon merupakan tingkat tertinggi dari arwah nenek moyang, jauh mengatasi ciptaan. Peringkat tertinggi dalam dunia roh adalah sombaon, mendekati kedudukan dewata. Dia menjadi sombaon, harus dan pantas disembah. Dan pada kenyataannya, orang-orang Batak lebih asyik memuja sombaon daripada Sang Khalik, Mulajadi Nabolon, demikian Warneck mengatakan.

Berhadapan dengan animisme dan paganisme Batak, Kekristenan datang ke tanah Batak. Karena itu, Gereja, misi Zending pada waktu itu, memandang agama Batak dan gerakanya sebagai kuasa jahilliyah dan kafir (Sitor Situmorang, Toba Nasae, hal. 330).

Kekristenan membawa pemusnahan praktek-praktek sembah sujud kepada roh nenek moyang yakni sombaon. Penghacuran makna dan arti sombaon tersebut sudah ada sejak awal Kekristenan masuk ke tanah Batak.

Ketikan Nommensen, misionaris Rheinische Mission, Jerman, pertama kali menetap di bius Silindung, Tarutung, Beliau langsung berhadapan dengan Sombaon Siatas Barita. Siatas Barita adalah Sombaon dari Bius Silindung.

Pada waktu Nommensen datang, timbul kegaduhan di Silindung. Kegaduhan itu adalah benturan antara yang diwartakan oleh Nommensen yakni Allah yang penuh belas kasih dalam diri Yesus Kristus dengan Sombaon Siatas Barita. Kekuasaan dan kedahsyatan kekuatan Sombaon Siatas Barita di Silindung ditantang oleh pewartaan Nommensen. Pewartaan Nommesen itu adalah penghinaan yang menggoncangkan dan meruntuhkan martabat Sombaon. Karena itu, Nommensen dijatuhi hukuman mati, harus dikurbankan kepada Sombaon.

Tangan Nommensen diikat. Nommensen digiring menyusuri menuju tempat Sombaon. Ritual upacara dibentangkan dan dilalui dengan seksama di tempat “magis” Siatas Barita (tempat Salib Kasih yang sekarang). Satu demi satu ritual pengurbanan dilaksanakan. Nommensen diarak menuju puncak kulminasi pengorbanan. Ritus pengorbanan “manuk nabontar”, ayam putih, sedang dilakukan. Tiba-tiba angin topan puting-beliung berhembus. Dentuman kilat sambar-menyambar. Hujan lebat mengguyur. Orang-orang lari tunggang langgang. Mereka berhamburan kucar-kacir. Pengurbanan ke Sombaon tidak jadi dilaksanakan tetapi yang tersisa adalah rasa malu dan bingung.

Nommensen kembali dan pulang sendiri ke tempatnya. Allah Nommensen menang atas Sombaon. Sombaon hancur dan kalah. Sombaon tak pantas lagi untuk diingat dalam memori apalagi untuk disembah. Harga diri para pemeluk runtuh dan mereka merasa linglung karena fondasi kepercayaan mereka hancur berantakan.

Kekristenan membuat praktek-praktek sombaon menjadi lenyap, hanya tinggal sebagai nama yang tak punya makna-arti dan latar belakang bagi banyak orang.

Kepentingan Penjajah

Perkembangan pemukiman yang heterogen (melampaui huta dan horja marga) yang lebih teroganisir yang dinamakan bius terjadi antara tahun 1000-1300 di tanah Batak (Sitor, hal. 31). Pada tahun 1800 diperkirakan ada sekitar 150 bius. Pada setiap bius ada identitas politik yang sangat kental yang direpresentasikan oleh Sombaon. Menurut Sitor Situmorang, sombaon adalah indentitas politik masyarakat kolektif-heterogen Batak. Pelean (sesembah) kepada Sombaon menjadi salah satu ritual dari pesta-pesta di setiap bius.

Karena sombaon merupakan ekpresi identitas politik dan bius merupakan benteng politik masyarakat Batak maka penjajah Belanda melarang pesta dan pagelaran bius di seluruh tanah Batak (Sitor, hal. 312). Akibat pelarangan yang keras oleh Belanda maka pada + 1900 seluruh bius tidak ada lagi dan sombaon tak punya arti dan makna lagi.

Lebih jauh, pelenyapan sombaon dipengaruhi oleh kepetingan administrasi pemerintahan penjajahan Belanda. Pada awal abad 20 seluruh tanah Batak sudah dibagi menjadi sekitar 150 Kepala Negeri. Kepala Negeri adalah unit terkecil, terendah, dalam administrasi pemerintahan penjajah. Kepala Negeri dibentuk dari satu bius atau penggabungan beberapa bius atau pembagian satu bius menjadi dua Kepala Negeri sesuai efektivitas untuk pemerintahan Belanda.

Kepala-Kepala Negeri adalah alat administrasi penjajah yang dipaksakan. Sebab pada saat itu timbul penuh perkara antara berbagai pihak. Perkara itu menyangkut batas teritori (wilayah) Kepala Negeri, pemangku Kepala Negeri, pertentangan kelompok dan lain-lain, yang sangat berkaitan dengan silsilah marga-marga.

Untuk mendukung keperluan praktis penjajahan di bidang administrasi dan peradilan dibuat suatu studi awal tentang silsilah marga-marga Batak. Studi awal itu dikerjakan oleh W.M. Hutagalung pada tahun 1926, yang pada waktu itu Hutagalung sendang menjadi pegawai pemerintahan penjajah di Pangururan. Dari orang Batak, hasil pendidikan penjajah tersebut, muncul karya PUSTAHA TARIONGOT TU TAROMBO BANGSO BATAK.

Walau pun banyak memberi gambaran umum tentang marga-marga, namun studi awal itu sangat menonjol untuk keperluan penjajahan. Karya W.M. Hutagalung tersebut menyimpan kekurangan bagi tarombo marga-marga tertentu. Menyangkut tarombo Naipospos, kesalahan studi itu menjadi sangat nyata yakni secara simplifistis disamakan teritori-wilayah Sipohon (bandingkan dengan teritori Silindung tetangga dekatnya) dengan Sombaon Same. J. Warnek mensejajarkan/membandingkan Silindung dan Sipoholon sebagai daerah, bukan sebagai nama orang tertentu. Penamaan daerah Sipoholon menjadi nama orang Martuasame adalah sesuatu yang rancu. Kerancuan itu adalah kesalahan fatal yang dibuat Hutagalung, hingga akhirnya banyak diikut banyak orang di kemudian hari.

Tetapi untuk keperluan administrasi dan pengadilan penjajah, penyamaan teritori Sipoholon dengan nama Martuasame adalah efektif. Penyamaan itu telah menguatkan identitas marga-marga di daerah Sipoholon yang mendukung pelaksanaan yang efektif bagi administrasi dan hukum.

Jadi Pemerintahan penjajah sangat berperan untuk menghilangkan makna dan arti sombaon melalui pelarangan ritus kepada sombaon dan penataan adminstrasi-pengadilan penjajah. Melalui pelarangan tersebut, arti dan makna sombaon menjadi hilang sedangkan melalui penataan administrasi mengakibatkan pengertian Sombaon Same menjadi rancu. Penyamaan teritori Sipoholon menjadi nama Martuasame membuat tafsir yang beda bagi orang-orang yang berkepentingan. Itulah yang diwariskan oleh penjajah.

SOMBAON SAME ADALAH “SEMBAH-SUJUD” PADA NAIPOSPOS

Sombaon Same adalah sembah sujud tertinggi kepada roh Naipospos. Ada alasan fundamental mengapa Sombaon Same adalah puja terhadap roh Naipospos. Alasan itu adalah adanya hierarki ritus dalam kehidupan orang-orang Batak pada masa lalu.

Hierarki ritus berarti jenjang upacara yang biasa dilaksanakan oleh orang-orang Batak untuk menghormati atau menyembah roh-roh. Setiap upacara penyebahan roh mencerminkan adanya hierarki. Hierarki itu dilalui untuk menunjukkan bahwa ada jenjang roh yang dipuja dan disembah. Upacara dibuat melalui jenjang untuk menunjukkan bahwa ada tingkatan roh yang disembah.

Pemujaan kepada roh orangtua dilalui melalui upacara pemujaan kepada sumangot dan sombaon. Ritus puja kepada sumangot dilaksanakan oleh keturunannya sedangkan ritus puja kepada sombaon dilaksanakan masyarakat heterogen-plural.

1. Ritus Begu

Tingkat ritus yang terendah kepada roh adalah upacara atau pelean kepada begu.

Begu adalah roh orang yang sudah meninggal dan roh-roh alam raya. Orang meninggal langsung menjadi roh yang disebut begu. Roh orang meninggal masih melayang-layang dan juga membutuhkan perhatian orang-orang yang masih hidup melalui sesembah (pelean).

Begu orang meninggal bisa hinggap ke seekor binatang, misalnya kucing atau elang. Bila di tengah malam, seokor kucing mengeong-eong di dapur maka dikatakan begu orang yang baru meninggal sedang kelaparan. Bila seekor elang berbunyi di siang hari maka dikatakan bahwa begu orang yang baru meninggal sedang terlunta-lunta, kesepian dan ingin mencari teman. Itu menandakan bahwa begu orang meninggal juga memutuhkan kontak dengan orang-orang yang masih hidup. Untuk itu dibuat pelean (sesembah) berupa makanan, minuman, pakaian, dll. kepada orang-orang yang sudah meninggal.

Roh-roh yang disebut begu itu beraneka ragam. Ada roh-roh itu kerjanya adalah semata-mata menyusahkan orang. Begu adalah juga sibolis, suru-suruan pangago. Hidup manusia berada dalam ancaman bahaya oleh Raja Padoha dari banua toru. Kaki tangan Raja Padoha di banua tonga adalah ribuan roh jahat yang mengancam manusia dengan segala muslihat (Warneck). Ada begu di laut, di gunung, di hutan, di pohon, dan lain-lain. Ada nama begu: pangulu balang, begu nurnur, begu antuk, begu rojan, begu toba, begu jau, begu ngenge nabirong dan lain-lain.

Karena itu ada ritus begu untuk mengontrol begu sehingga begu bisa disuruh-suruh. Begu bisa dikontrol atau dipelihara oleh sipiaro begu – parbegubegu. Begu dipelihara untuk menjaga dan memberi kekuatan-kekuasaan dan untuk disuruh menghancurkan dan mematikan musuh. Upacara parbegubegu merupakan pemberian sesembah berupa anjing hitam (asu nabirong), juhut panggang, sira pege, dan lain-lain. Ritus kepada begu ini dibuat dan dilaksanakan dalam suasana yang seram.

2. Ritus Sumangot

Ritus atau upacara kepada Sumangot dilaksanakan oleh keturunan untuk pemujaan roh orangtuanya yang dianggap menduduki tingkat sumangot. Roh orangtua yang meninggal tersebut telah mencapai posisi sebagai sumangot. Hakekat ugamo Batak adalah “ugamo Malim Baringin Batak, Sipele Sumangot”

Roh orangtua yang telah menjadi sumangot telah memiliki status yang tinggi dan bahkan mendekati kedudukan dewata. “Karena sumangot mengandung sporsi ciri Allah, mysterium tremendum et fascinosum maka keturunannya terikat semacam kaul puja” (Dr. Anicetus, hal. 92).

Roh orangtua yang mencapai tingkat sumangot adalah arwah orangtua yang mininggal karena sudah tua. Pada saat orangtua itu meninggal, dia sudah bercucu. Dan ketika orangtua itu sudah meninggal, keturunanya terbukti mengalami kemakmuran, hagabeon, hamoraon dan hasangapon.

Keturunan orangtua yang mengalami kemakmuran, hagabeon, hamoraon dan hasangapon membuat suatu upacara atau ritus untuk meningkatkan secara resmi roh orangtuanya dari status begu menjadi status yang lebih tinggi yakni sumangot. Upacara itu adalah pengangkatan status sekaligus mohon berkat yang lebih melimpah lagi. “Manumpak ma Debata, manuai sumangot ninatuatua!”

Satu keturunan (marga-marga yang sama) melakukan upacara yang disebut horja. Horja adalah pesta orang seketurunan. Horja tertuju kepada sumangot orangtua seketurunan. Horja yang dirayakan kelompok seketurunan adalah pernyataan status genealogis demi kemakmuran keturunan yang bersangkutan. Dalam upacara seketurunan tersebut roh orangtua dipanggil sumangot.

Ritus kepada sumangot biasanya dibuat pada pesta horja. Raja pesta horja (biasanya dilakoni oleh yang paling sulung/siangkangan) mengundang raja-raja huta (dongan tubu satu keturunan) untuk menghadiri pesta horja tersebut. Pada saat pesta tersebut dilaksanakan doa dan persembahan (pelean) kepada sumangot orangtua untuk memohon berkat dari sumangot kepada semua keturunannya.

Keturunan Naipospos membuat upacara kepada roh Naipospos sebagai sumangot adalah upacara yang diprakarsai Sibagariang. Sibagariang pada saat itu, mengalami kemakmuran, hagabeon, hamoraon dan hasangapon, mengundang saudara-saudaranya untuk melaksanakan ritus kepada sumangot orangtua mereka, Naipospos. Tak ada upacara lain yang direkam oleh semua keturunan Naipospos, selain ritus yang diprakarsai Sibagariang tersebut. Dalam ritus itu diselenggarakan mohon berkat dari sumangot Naipospos. Ritus itu dibuat untuk menyampaikan pelean dan sesembah kepada sumangot Naipospos sehingga diharapkan berkat melimpah bagi keturunannya. Ritus itu adalah upacara kepada sumangot Naipospos, bukan ritus ke sumangot lain.

3. Ritus Sombaon

Secara gamblang, J. Warneck mensejajarkan dan membandingkan bius Silindung dengan Sipoholon sebagai teritori, daerah, region. Sipoholon adalah daerah, bentangan tanah yang luas yang dihuni marga-marga Naipospos yang kemudian diikuti oleh marga-marga lain karena jalinan kekeluargaan (perkawinan). Walaupun marga-marga Naipospos sebagai keturunan patrineal di Sipoholon namun heterogenitas yang plural marga-marga ada di sana.

Bagi masyarakat heterogen tersebut, Raja Naipospos menjadi pribadi universal sebagai fundamen masyarakat. Penghargaan universalitas masyarkat Sipoholon kepada Naipospos direpresentasikan dengan Sombaon Same.

Sombaon Same adalah roh Raja Naipospos yang sudah meninggal. Dia berasal dari manusia. Sombaon adalah arwah orangtua atau nenek moyang. “Laos songon i do angka Namarnatuatua, Sombaon, Karamat, namarasal sian jolma do angka sombaon i. Ompu do sisombaon, Ompu Dolok do Sombaon…!”

Hakekat sombaon berarti yang disembah. Sombaon adalah posisi atau kedudukan tertinggi dari roh orang yang meninggal. Sombaon telah melewati kedudukan sebagai begu dan sumangot. Sombaon sudah diangkat setara dengan dewata. Dia sudah menjadi sombaon yakni yang disembah. Sombaon memiliki kekuatan yang sangat besar. Daya gaib, sahala yang luar biasa, ada dalam sombaon.

Sombaon Same, roh Naipospos, adalah orangtua atau ompung pendiri masyarakat plural di Sipoholon. Walaupun posisinya sebagai pendiri masyarakat tersebut tetapi dia tidak lagi dipandang sebagai leluhur marga-marga Naipospos belaka namun dia telah menjadi panteon, kolektivitas masyarakat Sipoholon secara keseluruhan, yang dipuja atas nama masyarakat.

Roh Naipospos telah mewakili daya-daya alamiah, roh leluhur, pendiri dan pionir masyarakat di Sipoholon yang disebut sebagai Sombaon Same. Permohonan dan sembah dilantunkan melalui doa dan persembahan (kebau). Seluruh masyarakat Sipoholon secara kolektif memuja roh Naipospos dalam apa yang disebut sebagai Sombaon Same. Upacara kepada Sombaon Same berlangsung di tempat yang keramat, yang ada dalam suatu perbukitan, yang di sebut sebagai tempat Sombaon Same.

Sombaon Same sebagai roh Naipospos adalah pendiri masyarakat Sipoholon karena itu Sombaon Same dianggap sebagai identitas politik masyarakat, keseluruhan masyarakat Sipoholon.

PENUTUP

Bangso Batak bukanlah masyarakat chaos, yang tanpa struktur dan kebiasaan yang sudah berlaku umum (habitus). Sejatinya bangso Batak memiliki kebiasaan yang sudah tertata baik menyangkut sosialitas maupun menyangkut religi.

Pada bidang sosialitas dikatakan bahwa ada proses secara gradual menuju masyarakat yang heterogen-plural. Hal tersebut diungkapkan melalui ungkapan:
Huta mula ni Horja
Horja mula ni Bius

Huta dan horja sebagai paguyuban-paguyuban satu keturunan “menciptakan/membuat” masyarakat heterogen-plural dalam apa yang disebut sebagai bius. Tak ada bius tanpa horja, tak ada horja tanpa huta-huta satu keturunan.

Religi Bangso Batak yang menyangkut roh-roh adalah untaian yang berjenjang sebagaimana sosialitas. Tak ada ritus kepada sombaon tanpa melalui ritus kepada sumangot. Tak ada ritus kepada sumangot tanpa melalui ritual kepada begu.

Untaian rangkaian ritus itu bisa kita runut dalam sejarah kehidupan pomparan Naipospos. Semua rangkaian ritus dari pomparan Naipospos mengacu kepada Roh Naipospos. Sombaon Same adalah puncak tertinggi dari suatu masyarakat untuk menyampaikan sembah-sujud dan puja kepada roh Naipospos.

Pematangsiantar, 11 Pebruari 2010

Leopold P. Sibagariang
Amani Mario Stefan

Sumber: Naipospos Online

  • Trackback are closed
  • Comments (0)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: