Dolok Imun

Oleh:  Maridup Hutauruk

Sangat senang bisa ikut berpartisipasi ikut memberi masukan tentang tarombo yang perlu dirunut dari Naipospos dan keturunannya. Kita mungkin akan sulit untuk mencari data otentik berdasarkan catatan sejarah tentang tarombo, tetapi harus ada kesepahaman untuk saling mengakui kebenaran yang ada. Kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa mengapa tidak ada catatan sebagai data otentik untuk memperkecil perdebatan kalau memang harus diperdebatkan?

Sejarah Peradaban Batak moderen baru bisa dirunut dari sumber data yang minim sejak terbukanya peradaban tersebut dari ketertutupan yang maha ketat (Splendid isolation). Tidakkah kita mau membuka alam pikiran kita bahwa data otentik itu semasa Paderi di awal abad-19 sudah puluhan ribu judul tulisan dalam aksara Batak (Laklak) diberangus dalam pembumi hangusan Tanah Batak?

Apakah jumlah ribuan judul laklak yang saat ini berada diluar Indonesia bukan sebagai bukti bahwa ‘omputa sijolo-jolotubu’ sangat kreatif untuk mencatatkan ilmu pengetahuan dalam bentuk tulisan? Berapa banyak pula judul tulisan yang secara rela kita buang sendiri semasa masuknya evangelisasi Kristen karena dianggap sebagai sarana pemujaan setan? Sementara di Perpustakaan Nasional hanya ada sekitar 200 judul saja dan mungkin tak pernah kita berniat untuk menggali apa isinya? Sejak masyarakat Bangsa Batak melek dengan huruf latin dengan segala gelar keilmuan moderen, apa sudah setara jumlah judul tulisan yang diperbuat oleh Bangsa Batak moderen itu? 

Pesan yang ingin disampaikan disini bahwa kita jangan sekonyong-konyong harus meminta pembuktian yang otentik atas suatu cerita, legenda, turi-turian, apabila condong dibawakan menjadi catatan sejarah oleh karena orang tua-tua kita sangat jitu menceritakan ketepatan suatu tarombo sampai 20 generasi kebelakangnnya dengan luar kepala. Artinya bahwa suatu cerita, legenda, turi-turian bisa kita bawakan sebagai suatu catatan sejarah dan yang penting kita bisa mencari benang merah dari beberapa versi yang logis untuk disepakati secara ilmiah menjadi catatan sejarah.

Apabila kita membawa alur pikir yang logika maka Bangsa Batak itu berusia sekitar 600 tahun ( 25-30 tahun/generasi) sementara tulisan /aksara Bangsa Batak tersebut sudah ada sekitar 10 abad sebelum masehi dan jenis aksara tersebut tidak ada dimana-mana selain di Tanah Batak dan kemiripannya hanya ada pada tulisan Rejang dan Aramaic. Apakah logika berpikir yang logis itu yang kita akui?

Perlu ada kajian bahwa Siraja Batak bukanlah satu oknum sebagai awal sejarah Batak bergenerasi, melainkan hanya sebagai sebutan bagi rentetan generasi-generasi Bangsa Batak. Jadi Siraja Batak bukanlah melahirkan 2 atau 3 anak sebagai keturunannya sebagaimana yang umum dipahami dan diakui oleh orang-orang Batak bahwa Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon menjadi nama satu orang oknum.

Saya lebih meyakini bahwa pada level generasi Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon merupakan sebutan untuk kelompok generasi-bergenerasi, dan demikian pula level keturunan berikutnya yang juga sebagai kelompok generasi bergenerasi. Oleh karena itu ada ‘The Missing Link’ pencatatan silsilah keturunan, sampai kepada level dimana marga-marga bermunculan pertamakali barulah urutan generasi itu lebih tertata urutannya yang disebut sebagai ‘Tarombo’, dan masing-masing marga meyakini kebenaran tarombo itu menjadi catatan sejarah silsilah keturunannya terlepas dari adanya disana-sini yang saling claim siapa lebih tua dan siapa lebih muda, atau adanya deviasi urutan generasi antara satu clan semarga dengan clan lainnya.

Apabila Naipospos kita sepakati sebagai satu oknum yang menurunkan marga-marga (7 marga), maka Naipospos bukanlah marga melainkan sebagai sebutan atau nama persatuan diantara 7 marga-marga tersebut yang disebut ‘Toga Naipospos. Kemudian apabila Toga Naipospos melahirkan Toga Sipoholon dan Toga Marbun, maka Sipoholon dan Marbun belum menjadi marga, walaupun masih banyak insan keturunannya terutama menyebutkan dirinya Naipospos atau Marbun sebagai marganya padahal mereka dan kelompoknya menyadari bahwa mereka memiliki marga seperti semisal Naipospos = Hutauruk, Marbun = Lumban Batu, atau sebutan untuk marga-marga lain yang kakak beradik. Kalau Toga Sipoholon mempunyai nama oknum yang disebut Martuasame dan melahirkan empat keturunan yang berurutan bernama Donda Hopol, Donda Ujung, Ujung Tinumpak, Jamita Mangaraja yang selanjutnya menjadi marga-marga berurutan sebagai Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang dan marga-marga ini sampai saat ini taat memakainya dan marga-marga ini dianggap tidaklagi sedarah sehinga disebut sudah marsibuatan atau dapat saling mengawini karena tidak ada efek psychologis sebagai kakak beradik sedarah, dan memang sudah ada sekitar 16-17 generasi jauhnya pada saat ini.

Hal yang sama mungkin terjadi pada Toga Marbun yang pada saat ini belum saya ketahui adanya sebutan nama oknumnya, menurunkan generasi marga yang disebut sebagai marga-marga Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, dan menjadi marga-marga yang berdiri sendiri yang sudah marsibuatan. Kalau sudah demikian halnya apakah masih layak kalau kita masih harus menyebutkan marga Naipospos ataupun Marbun? Bagaimana jika terjadi perkawinan diantara marga-marga pada generasi keturunannya? Sebagai contoh pada kelompok Silahi Sabungan untuk yang tetap menyebut marga Tambunan dapat mengawini marga Tambunan lainnya sehingga ada kesan incess dalam perkawinan ini padahal Tambunan yang satu dan Tambunan Lainnya sudah belasan generasi jauhnya, namun ada upaya belakangan ini untuk memakai garis clan-nya menjadi sebutan marga untuk mencegah kesan kawin sedarah tersebut. Suku marga ini kemudian menyebut marganya semisal Ujung Sunge, Pagaraji, Baruara, Lumban Rea, Lumban Gaol, dan lain-lain. Sebutan marga-marga ini tentu akan mendukung pelestarian falsafah Dalihan Natolu dalam mengembangkan budayanya.

Adanya issu akan diadakannya pertemuan suku-suku marga generasi keturunan Naipospos yang akan terpusat di Dolok Imun tentu membawa pengharapan akan adanya pelurusan-pelurusan yang akan bermuara pada penetapan catatan sejarah suku marga-marga ini. WM Hutagalung dalam bukunya ‘Pustaha Batak’ menulis catatan tarombo yang menyimpang mengenai urutan-urutan kakak beradik dibanding dengan tarombo yang sudah diakui khususnya dari suku marga Hutauruk.

Penyimpangan-penyimpangan ini perlu ada pelurusannya dikarenakan buku tersebut dapat saja menjadi referensi bagi generasi selanjutnya yang menganggapnya sebagai bukti otentik catatan sejarah, padahal sudah ada kesepahaman pembenarannya oleh marga-marga dari keturunan Naipospos di tahun 1933 dan berlanjut pada tahun 1983, namun karena tak terpublikasi secara baik di antara generasi berikutnya maka akan ada kemungkinannya untuk terjadi pertentangan dikemudian hari oleh generasi-generasi yang lebih muda.

Setelah selesainya Perang Paderi yang hampir memunahkan Bangsa Batak terutama Batak Utara (Silindung, Toba, Samosir, Humbang, dsk) yang menurut buku Tuankurao bahwa 75% atau sebanyak sekitar 600.000 masyarakat Batak punah akibat perang saudara dan beguantuk, maka pinompar Naipospos berkumpul di Dolok Imun-Sipoholon pada tahun 1933 atau sekitar 100 tahun setelah keluarnya Paderi, dapatlah kita mengira-ngira bahwa pertemuan itu tentu bertujuan untuk mensyukuri dan meminta berkat ‘gabe marpinompar’ yang bertujuan agar bonapasogitnya terisi kembali oleh pinompar Naipospos.

Dalam hal marpinompar ada indikasi bahwa doa bersama tersebut disambut oleh maha pencipta sehingga mereka berkembang dan berketurunan, dan bahkan khususnya untuk marga Sibagariang yang dikisahkan terkutuk oleh adik-adiknya juga berkembang keturunannya menjadi melebihi jumlah kutukan yaitu 99 orang pembawa generasi.

Setelah berjalan 50 tahun, maka pada tahun 1983 Keturunan Naipospos mengadakan pertemuan akbar, maka berkumpulkanlah keturunan Naipospos dari seluruh dunia di Dolok Imun. Esensi dari pertemuan ini adalah pengucapan syukur kepada maha pencipta bahwa keturunannya ternyata sudah menyebar mendunia yang bahkan berdatangan dari Eropah dan Amerika. Pada pertemuan ini ada diceritakan tentang upaya perbaikan-perbaikan tarombo dari marga-marga Naipospos dan tentu saja ada konsensus-konsensus yang sudah disepakati bersama dalam rangka agar tidak lagi ada percekcokan mencari legitimasi disetiap marga-marga Naipospos.

Saya tidak mempunyai dokumen-dokumen yang menceritakan tentang pertemuan akbar keturunan Naipospos pada tahun 1933 & 1983 tersebut dan bahkan dari kalangan-kalangan yang lebih tua pun ada yang tidak mengetahui cerita tersebut. Apa lantas saya tidak mempercayai adanya pertemuan tersebut?

Menurut cerita yang saya dapatkan dari berbagai pihak dan saya meyakini porsi yang besar akan kebenarannya bahwa antara keturunan Toga Sipoholon dan Toga Marbun yang kakak beradik sudah ada konsep kekerabatan sebagai berikut:

Apabila seorang keturunan dari Toga Marbun berkunjung ke rumah keturunan Toga Sipoholon maka layaklah keturunan Toga Marbun harus memanggil abang kepada keturunan Toga Sipoholon. Alasann logis bahwa apabila harus menginap di rumah yang dikunjungi maka tidaklah marsubang untuk memakai kain sarung ‘angkang boru’. Untuk suatu hajatan pesta maka diundang menjadi siahaan partubu dari yang mengundang. Demikianlah sebaliknya sehingga wujud falsafah Bangsa Batak ‘Dalihan Natolu’ dapat terpelihara secara proporsional dan konsekwen.

Ada legenda yang melingkupi cerita kehidupan Naipospos dan generasi keturunannya terutama antara Toga Sipoholon dan Toga Marbun. Salah satunya yang dapat saya paparkan bahwa pada jamannya Naipospos di Dolok Imun memperistri boru Pasaribu dari Silindung. Oleh karena kegiatannya maka Naipospos pergi ke arah Muara dan disana Naipospos memperistri boru Sihotang dan mendapatkan keturunan (namanya belum diketahui). Pada saat Naipospos kembali ke Dolok Imun ternyata dia-pun mendapat keturunan dari boru Pasaribu yang ditinggalkannya dan diberi nama Martuasame. Naipospos dengan gentleman mengakui bahwa diapun sudah mendapatkan keturunan dari boru Sihotang di Muara, maka boru Pasaribu istrinya menyebut Naipospos dengan sebutan ‘marbunii’ atau mengambil istri lain tanpa sepengetahuan istri pertamanya. Selanjutnya disebutlah keturunan Naipospos dari boru Sihotang bernama Marbun.

Mungkin kita akan berkata bahwa legenda hanyalah sebatas cerita yang hayal dan tidak otentik. ‘Ada asap karena ada api’ mungkin merupakan kiasan yang menggambarkan keberadaan ini. Kalau kita memang berikhtiar untuk mengambil ujung cerita yang menyenangkan semua pihak, maka pencarian bukti otentik bukanlah solusi yang dicita-citakan untuk menyenangkan semua pihak itu bahkan akan membuat jurang pemisah semakin melebar, dan Naipospos sebagi nama pemersatunya menjadi tidak penting lagi dan alasan lain bahwa diantara marga-marga (7 marga) keturunannya sudah ‘masibuatan’, walaupun diantara marga-marga ini masih ada ‘padan’ tetapi eksistensi marga-marga ini sudah mandiri membawakan kemulian marganya masing-masing.

Kembali kepada legenda, bahwa secara biologis hubungan suami istri sebelum Naipospos meninggalkan istrinya boru Pasaribu untuk memperistri boru Sihotang tentu memungkinkan mendapatkan keturunan. Apabila kemungkinan lain yang terjadi bahwa Naipospos mendapatkan keturunan dari boru Pasaribu dari hasil hubungan suami istri setelah kembali dari Muara maka sah saja Marbun menjadi anak yang pertama lahir secara biologis namun ada pemahaman bahwa konsep budaya Dalihan Natolu yang masih terpakai sampai saat ini dapat menjadi solusi yang elegan bahwa marga Pasaribu menjadi Hula-hula siahaan bagi Naipospos dan marga Sihotangpun akan menjadi Hula-hula sianggian.

Mana diantara pemikiran ini yang lebih memungkinkan ataukah tuntutan jaman sekarang yang selalu meminta fakta otentitas, maka cerita inipun tidak akan berujung kepada pencarian yang menyenangkan hati semua pihak. Sebagai ilustrasi, apabila saya menanam sebuah pohon tertentu di lahan tertentu, lalu pohon tersebut saya tinggalkan bertumbuh. Setelah kurun waktu 30 tahun maka pohon tersebut tidak lagi seperti pohon yang saya tanam dahulu melainkan sudah sedemikian besar bertumbuhnya. Fakta yang otentik bahwa pohon yang besar itu adalah pohon yang saya tanam 30 tahun lalu tetapi pertumbuhannya hari demi hari bukanlah menjadi fakta yang otentik bagi saya oleh karena saya tidaklah mengamati pertumbuhannya hari demi hari melainkan hati dan roh yang ada pada diri saya meyakini bahwa inilah pohon yang saya tanam itu walaupun tanpa ada fakta otentik pertumbuhannya hari demi hari selama 30 tahun itu.

Dolok Imun adalah bonapasogit Naipospos dengan hamparan tanah yang luas ribuan hektar sampai ke perbatasan jalan lintas Negara di Huta Raja, Sipoholon. Secara topografi bahwa Dolok Imun berada di deretan bukit barisan tetapi secara visual Dolok Imun tidak berhubungan dengan bukit barisan karena terlihat berdiri sendiri tunggal. Ribuan hektar hamparan dataran yang berada di kaki Dolok Imun rata-rata berada pada ketinggian sekitar 900 ? 1000 dpl. Sedangkan puncaknya telah dikuasai oleh dinas kehutanan dengan penanaman pinus.

Keturunan Naipospos sudah meninggalkan hamparan dataran disekitar kaki Dolok Imun namun marga Sibagariang masih ada berkampung disekitar situ. Marga-marga keturunan Naipospos seperti Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, mendirikan kampungnya kebanyakan disekitar jalan lintas negara seperti Hutaraja- Sipoholon, sementara hamparan dataran sampai ke kaki Dolok Imun umumnya terdapat kampung-kampung yang ditempati marga-marga lain seperti Sinaga, Situmorang, Nababan, dll.

Pernah di tahun 2006 saya dan beberapa dongan tubu Hutauruk bernapaktilas sampai ke kaki Dolok Imun menyusuri jalan berlumpur yang parah dan bertemu dengan seorang bermarga Sinaga yang berkampung di kaki Dolok Imun itu. Dalam perkenalan itu, Sinaga bertanya kepada saya: “Apakah kalian mau jiarah ke bonapasogit kalian ini?” katanya bertanya dan lanjutnya, “Jalan ke dolok itu sudah tak bisa lagi di jalani karena kalian tak pernah mengurusnya” katanya dengan pasti. Bahasa ini saya artikan bahwa penduduk setempat yang sudah membuka kampung disitu masih mengakui bahwa kawasan itu adalah Tanah Ulayat keturunan Naipospos.

Peristiwa lainnya bahwa saya berbincang dengan seorang marga Nababan yang berkampung di kaki Dolok Imun, kemudian saya tanya: “Apakah kalian mendirikan kampung di Dolok Imun ini karena Sonduk Hela?” kataku bertanya dan dia menjawab, “Tidak, Cuma karena kalian meninggalkannya maka kami mendirikan kampung disitu” demikian katanya. Kata kata ini bermakna bahwa semua marga yang saat ini membuat kampung disitu mengakui bahwa kawasan itu adalah Tanah Ulayat Keturunan Naipospos.

Jalan tanah berlumpur yang rusak pada saat itu banyak dilalui truk pembawa kayu pinus, dan pohon-pohon pinus yang tumbuh dihamparan kaki Dolok Imun sudah tuntas habis kecuali yang persis tumbuh di gunung itu. Saat saya berbincang dengan seorang ibu sewaktu ada penebangan pinus dan saya bertanya: “Siapa yang menebangi pinus ini?” kataku bertanya dan dia menjawab “Pengurus Naipospos yang menjual pinus-pinus itu” katanya dengan pasti. Saya tidak tau pasti apa ada pengurus Naipospos yang berhak menjual pohon-pohon pinus yang ada dikawasan Dolok Imun itu. Kalaupun ada kepengurusan Naipospos apa bisa dipertanggungjawabkan kepada keturunan Naipospos (7 marga)?

Pada saat ini masyarakat Tapanuli Utara berada dalam peta kemiskinan tentu saja marga-marga keturunan Naipospos termasuk diantaranya. Sebanyak sekitar 54.000 hektar tanah ulayat di Tapanuli Utara terlantar tanpa ada upaya dari marga-marga untuk mengelolanya demi memajukan perekonomian masyarakatnya dan tentu pula marga-marga keturunan Naipospos belum memberikan perhatian serius untuk aspek kemasyarakatan ini.

Issu akan diadakannya pertemuan akbar pinompar Naipospos di Dolok Imun di bulan Juni 2008 dapat merupakan pemicu semangat untuk memberdayakan potensi yang ada pada marga-marga keturunan Naipospos terutama oleh insan-insan yang sudah mapan dan berpengaruh mendapatkan akses untuk membangun bonapasogit Dolok Imun. Kawasan ini dapat dikelola oleh marga-marga ini untuk kegiatan perekonomian pertanian yang dengan sendirinya akan mengaktifkan perekonomian rakyat masyarakat sekitar terutama masyarakat dari marga-marga keturunan Naipospos. “Dos ni roha sibahen na saut”.

Bukan urusan gampang untuk memulainya tetapi tidaklah sulit untuk melaksanakannya asalkan ada itikat baik dari semua pihak bahwa Tanah Ulayat itu harus di olah. Saya pernah berandai-andai apabila mampu mengelola Tanah Ulayat tersebut lalu kemudian saya berbincang dengan salah satu pejabat pemda meminta saran jalur apa sebaiknya saya tempuh untuk berhak mengelola tanah tersebut? Maka saran yang disampaikan bahwa sebaiknya dilakukan pendekatan secara pemerintahan ketimbang melalui jalur marga-marga karena dikhawatirkan akan menimbulkan pertikaian diantara marga-marga?

Oleh karena itu apabila memang benar bahwa akan diadakan pertemuan akbar Naipospos di Dolok Imun di bulan Juni ini maka topik ini menjadi layak untuk diperbincangkan. Issu Protap tentu akan meningkatkan aspek politis apabila pinompar Naipospos sudah memulai untuk sepakat mengelola tanah ulayat tersebut. Tragis apabila penguasa di Tapanuli Utara tidak pernah tampil dari marga-marga Naipospos pada hal marga-marga Naipospos merupakan putra daerah asli Tapanuli Utara di Silindung disamping marga-marga lain seperti Siopat Pusoran. Mengapa marga-marga Naipospos hilang dari peredaran politis di daerahnya sendiri? Bukankah Kecamatan Sipoholon merupakan daerah yang paling banyak penduduknya dibanding kecamatan-kecamatan lainnya di Tapanuli Utara? Tiada kata terlambat bahwa upaya untuk berdiri dikaki sendiri harus dimulai dari diri sendiri sebelum tergilas oleh jaman?

Akhir kata, tulisan ini diharapkan dapat memicu partisipasi pemikiran untuk topik-topik penting yang akan berdayaguna membangun keberadaan marga-marga dari pinompar Naipospos. Mohon maaf kalau ada kata-kata atau uraian yang menyinggung perasaan secara pribadi, kelompok, atau apapun bentuknya tetapi artikel ini terungkap secara jujur dari hati yang merindukan kemajuan dalam kebersamaan di pinompar Naipospos. Semoga tulisan ini bermanfaat. Horas.

Sumber: Naipospos Online

  • Trackback are closed
  • Comments (0)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: