Siapa Itu Naipospos?

Oleh: Maridup Hutauruk

Bila dilihat dari tulisan-tulisan mengenai Tarombo Bangsa Batak bahwa keturunan Naipospos menjadi kelompok marga-marga yang termuda atau disebut saja sebagai Siampudan ni marga-marga. Bila ditarik dari garis keturunan Siraja Isumbaon sebagai adik dari Guru Tatea Bulan maka Naipospos merupakan anak yang terkecil berdasarkan garis keturunan. Kalau demikian pemikirannya maka Situmeang akan menjadi marga siampudan dari seluruh marga-marga.

Raja Ihat Manisia (Raja Ihot Manisia) adalah seorang manusia yang dilahirkan sebagai manusia dengan pasangannya bernama Siboru Itam Manisia. Pasangan manusia pertama ini dilahirkan oleh seorang dewi dari Banua Ginjang bernama Siboru Deakparujar dengan pasangannya bernama Raja Odapodap yang juga penghuni nirwana Banua Ginjang. Raja Odapodap yang dilegendakan berbentuk kadal atau orang batak menyebutnya ‘ILIK’ yang kemudian dalam kosmologi Bangsa Batak disebut Boraspati ni tano sebagai dewa kesuburan tanah, makanya disetiap ukir-ukiran (gorga) selalu digambarkan bentuk-bentuk cicak ini. 

Demikianlah Bangsa Batak merunut silsilahnya (tarombo) dari generasi-generasi keturunan pasangan manusia pertama bernama Raja Ihat Manisia dan Siboru Itam Manisia yang kemudian mengisi alam Banua Tonga keseluruh delapan penjuru mata-angin (desa naualu) di Bumi. Kemudian Bangsa Batak merekam tarombonya sebagai berikut:

Raja Ihat Manisia bersama pasangannya Siboru Itam Manisia melahirkan tiga orang keturunan berurutan bernama Raja Miokmiok, Patundal Nabegu, dan Aji Lampaslampas. Ke tiga anak manusia ini kemudian mendapat pasangan dari putri-putri Banua Ginjang yang tertangkap oleh mereka sewaktu bermandi-mandi di sebuah kolam di Bumi dan masing-masing menjadi pasangannya, yang kemudian dari pasangan Raja Miokmiok dengan dewi putri-1 tinggal di Bona Pasogit manusia. Sementara saudara-saudaranya pun berketurunan di daerah kekuasaannya yang lain seperti Patundal Nabegu dengan pasangannya dewi putri-2 ke Benua Asia (India), dan Aji Lampaslampas dengan pasangannya dewi putri-3 ke Afrika. Berseraknya ke tiga kelompok generasi ini tentu dilingkupi dengan cerita legenda yang disebut Bonanipinasa.

Demikianlah kelompok generasi ini berkembang berketurunan dan tersebutlah Siraja Miokmiok menurunkan generasi bernama Siangga Banua sebagai kelompok generasi dinasti ke-3 dari Siraja Ihat Manisia. Kata ‘Siangga’ berasal dari kata Anggara merupakan hari ke tiga dalam kalender Bangsa Batak. Siangga Banua menurunkan 3 dinasti generasi yang yang disebut Raja Aceh yang menjadi cikal bakal Bangsa Gayo, Alas, Kluwet, Singkil, kemudian Raja Bonangbonang yang menjadi cikal-bakal Bangsa Batak sekarang, dan Raja Jau yang menjadi cikal Bangsa Melayu di kawasan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung.

Dari generasi-generasi pada Dinasti Bonangbonang menurunkan dinasti baru bernama Dinasti Tantandebata dimana generasi-generasi pada dinasti ini sudah berkembang ilmu-ilmu habatakon dan pada saat ini masih ada sebagian kecil yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh Bangsa Batak yaitu Dalihan Natolu dan Tarombo. Sementara ilmu-ilmu habatakon lainnya sudah banyak yang punah.

Dari Dinasti Tantandebata menurunkan sinasti baru yang disebut Dinasti Siraja Batak. Pada generasi-generasi semasa dinasti ini, Tanah Batak sudah menjadi Tanah Suci yang menjadi tujuan bangsa-bangsa yang berkembang di Asia dan Afrika. Banyak bangsa-bangsa berorientasi menuju Tanah Batak yang disebut Timur. Peradaban-peradaban dari Asia dan Afrika sudah berpikir untuk mengunjungi bonapasogitnya di Tanah Batak sebagai bonapasogit manusia.

Ada diriwayatkan oleh Plato dalam tulisannya Cretias dan Timeus bahwa Bangsa Mesir sudah berhubungan dengan bangsa di Timur ini yang digambarkan sudah memiliki peradaban yang maha tinggi baik di bidang teknologi maupun pemerintahan. Digambarkan bahwa bangsa ini dipimpin oleh dua kubu kekuatan pemerintahan dimana kubu pertama telah mengembangkan pengetahuan tentang spiritualisme yang orang Batak bilang sebagai ‘Hahomion’ atau ‘Homitan’ yaitu pengetahuan tentang hubungan manusia dan penciptanya. Teologi menjadi berperan penting mengatur tatanan kemasyarakatan Bangsa Batak pada masa itu, maka berkembanglah kepercayaan monotheis yang disebut kepercayaan (agama) Mulajadi dengan pujaan tertinggi (Supreme God) bernama Mulajadi Nabolon sebagai pencipta alam raya semesta (Alrase).

Dari kubu pertama ini dikatakan bahwa keturunannya ada lima pasang atau lima laki-laki dan lima perempuan yang menjadi pangeran-pangeran. Ke-lima pasang yang dimaksud adalah yang diketahui sebagai anak-anak Mangarata yang bergelar Guru Tatea Bulan bernama Raja Uti- Biding Laut, Saribu Raja- Siboru Pareme, Limbong Mulana-Anting Haomasan, Sagala Raja- Sinta Haomasan, Silau Raja- Nantinjo. Sementara kubu ke-dua yang dipimpin oleh Isumbaon berperan dalam pemerintahan di bidang hubungan antar manusia berupa ilmu-ilmu pengetahuan tentang kemasyarakatan (Sosial Science), maupun teknologi seperti Ilmu Perbintangan – Parlangitlangitan (Astrologi – Astronomi), Ilmu tentang cuaca – Pane Nabolon (Climatology), Ilmu Hukum – Patik dohot Uhum (Law and Order), Ilmu Arsitektur – Parumaon (Architecture & Civil Construction), Ilmu Sastra – Pustaha (Arts & Linguistic), Ilmu Kedokteran-Pangubaton (Health Science), Ilmu Mistis- (Ocultism), dan banyak keilmuan lainnya.

Dari kubu kedua yaitu Raja Isumbaon menurunkan dinasti-dinasti bernama Dinasti Sangkar Somalidang, Dinasti Raja Asiasi, dan Dinasti Sorimangaraja. Dinasti Sorimangaraja berketurunan hingga seratus generasi sampai pada generasi bernama Tuan Sorimangaraja yang kemudian menurunkan Dinasti Sorbadibanua dan Dinasti Raja Tunggul yang berkuasa di daerah Pakpak. Dari Dinasti Sorbadibanua yang bernama Tuan Sorbadibanuan mendapat keturunan dari istri pertama Anting Malela boru Pasaribu yaitu Sibagotnipohan, Sipaettuan, Silahisabungan, Sirajaoloan, Sirajahutalima. Tuan Sorbadibanua juga mendapat keturunan dari istri kedua seorang putri Majapahit bernama Siboru Basopaet dan keturunannya bernama Raja Sobu, Raja Sumba, Naipospos. Dari sinilah cerita Naipospos membuka kemuliaannya di Dolok Imun.

William Shakespear mengatakan ‘Apalah arti sebuah nama!’ memang kadang ada benarnya akan tetapi setiap nama yang disandang oleh seseorang tentu punya makna yang khusus bagi orang tua yang menurunkan seorang generasi. Tentu sama halnya dengan Tuan Sorba Dibanua dari istrinya si Putri Majapahit yang melahirkan Naipospos sebagai anak ke tiga tentu menyematkan nama yang bermakna pula. Dikisahkan bahwa Naipospos terlahir dengan satu tanda tubuh (sihat) yang terdapat pada wajahnya yaitu seperti bekas luka mengkerut (Scars) berbentuk lipas-kecoa yang dalam bahasa batak diebut ‘ipos’ sehingga Naipospos semasa remajanya dipanggil dengan sebutan ‘na iposiposon’ yang kemudian menjadi Naipospos.

Tuan Sorbadibanua adalah seorang pendekar yang berpenampilan kekar, tampan dan bijaksana. Dia menginginkan agar anak-anak dari dua istrinya itu menjadi para pendekar yang kuat, kekar, dan bijaksana seperti dia, maka diapun mendidik anak-anaknya seperti yang diinginkannya. Suatu hari Tuan Sorbadibanua berniat untuk menguji anak-anaknya sebagai pendekar-pendekar muda yang kuat, oleh karena berpikiran bahwa dua kelompok keturunan dari dua ibu ini haruslah dipisah tempat tinggalnya tetapi dia tidak dapat memutuskan bagaimana caranya sementara diapun menginginkan agar dari keturunan Anting Malela yang lebih disayanginya tetap tinggal bersamanya di kampung halamannya yang bernama Lobu Gorat di kaki Dolok Tolong, sementara dari keturunan Siboru Basopaet yang dianggap keturunan boru sileban harus mencari kampung yang baru maka, dia mengelompokkan anak-anaknya itu menjadi dua kubu yaitu kubu keturunan Anting Malela boru Pasaribu dan kubu keturunan Siboru Basopaet untuk berkompetisi perang-perangan dengan menggunakan tombak yang terbuat dari batang mirip pohon tolong yang disebut sanggar dengan harapan kubu Siboru Basopaet kalah dan harus pindah kampung.

Dari Kubu Siboru Basopaet sempat protes karena jumlah mereka cuma 3 orang dibanding kubu Anting Malela berjumlah 5 orang. Dengan sedikit licik Tuan Sorba Dibanua mengatakan: “Kan bukan karena jumlah yang memenangkan pertandingan tetapi kepintaran dan kebenaran” katanya meyakinkan. Kemudian dijawab kubu Siboru Basopaet, “Baiklah kalau begitu amang, engkaulah yang tau maksud sebenarnya dihatimu, kalau kami kayaknya pasti menang”. Kemudian masing-masing membuat tombak mainan tetapi Siraja Hutalima dari keturunan Anting Malela yang bungsu menganjurkan agar kubu mereka memakai ujung runcing yang terbuat dari serat kayu bagot yang disebut tarugi dengan maksud untuk mematikan lawannya dari kubu Siboru Basopaet. Salah seorang di antara mereka yaitu Siraja Oloan tidak setuju dengan rencana itu karena mereka kan saudaranya juga walaupun bapak lebih menyayangi mereka dari kubu Anting Malela, dan Siraja Oloan pun tidak turut memakai tarugi tersebut namun saudara-saudaranya yang lain tetap memakai ujung tombak yang mematikan itu. Kemudian mereka bertanding dan Siraja Hutalima langsung melemparkan tombaknya yang mematikan itu namun dapat ditangkap oleh Siraja Sobu dan diketahuilah melalui tarugi bahwa kelompok Anting Malela berniat membunuh mereka.

Siraja Sobu protes kepada Tuan Sorbadibanua bahwa kubu Anting Malela memang berniat jahat. Lalu Tuan Sorba Dibanua berkata; “Kalau begitu, kita akan hukum nanti dia”. Sesaat dikatakan Tuan Sorba Dibanua demikian maka Siraja Sobu langsung melemparkan tombak yang memakai tarugi itu dan mengenai mata Siraja Hutalima, dan luka di mata itu kemudian membawa kematiannya. Selama hidup Tuan Sorba Dibanua niatnya untuk memisah kelompok anaknya ini tidak berhasil, namun setelah kematiannya kemudian hari maka ke-dua kubu ini sudah ada perselisihan dimana kubu Anting Malela selalu menteror kubu Siboru Basopaet yang akhirnya kubu Sibasopaet angkat kaki dari kampung itu dan membuka kampung ditempat yang bernama Lobu Galagala dimana terdapat daerah berbatu yang disebut Batu Marsanggul tempat mereka pertamakali memijakkan kakinya di kawasan itu. Siraja Sobu sudah mendapat dua orang keturunan di daerah ini yang kemudian yang satu bernama Raja Tinandang dan Raja Hasibuan membuka kampung di daerah Uluan, sementara Raja Sumba dan Naipospos masih belum berkeluarga.

Walaupun dua kelompok ini sudah berpisah kampung tetapi kubu Anting Malela masih saja tetap men-terror dengan berbagaicara. Karena terus mendapat terror dari kubu Anting Malela maka mereka sepakat untuk masing-masing mencari tempat baru. Sebelum pindah maka mereka menanam sebagian harta pusaka mereka di Lobu Galagala karena tak semua dapat dibawa mereka. Siboru Basopaet, Siraja Sobu dan adiknya si kecil Naipospos membuka kampung di Sipintupintu sementara Siraja Sumba membuka pergi ke arah Meat kemudian Siraja Sumba pindah lagi karena masih takut kepada kubu Anting Malela dan membuka kampung di Tipang dan berketurunan di sana.

Karena kurang serasi di daerah Sipintupintu maka mereka ber-tiga Siboru Basopaet, Siraja Sabu dan Naipospos berpindah kampung ke daerah yang disebut Lobu Tonga yang ada di Silindung. Di Lobu Tonga daerah Hutabarat inilah Siboru Basopaet meninggal dunia dan dikuburkan di daerah ini di dekat sejenis pohon yang disebut Hau Tor dan dikawasan ini banyak ditumbuh pohon Sitorngom yang sangat gatal. Kawasan ini dulunya disebut kawasan keramat (sombaon) tempat orang memberikan sesajen yang disebut ‘Sibasopaet’. Dari kawasan inilah keturunan Siraja Sobu yang sebelumnya sudah berkampung di Uluan datang dan menjadi marga-marga yang ada di daerah ini. Setelah Naipospos mengambil istri boru Pasaribu dari Silindung maka dia pergi membuka kampung di Dolok Imun. Karena belum mendapatkan keturunan maka dia mendapatkan istri baru di daerah Muara-Bakkara dan mendapat keturunan bernama Marbun.

Sekembali dari Bakkara ke Dolok Imun ternyata Naipospos pun mendapat keturunan bernama Martuasame yang lahir di dekat ‘Sombaon Same’ di Sipoholon. Kemudian berkembanglah keturunan Naipospos ini menjadi marga-marga dari dua toga yang disebut Toga Sipoholon bermarga Sibagariang (Donda Hopol), Hutauruk (Donda Ujung), Simanungkalit (Ujungtinumpak), Situmeang (Jamitamangaraja) dan Toga Marbun bermarga Lumban Batu, Banjar Nahor, Lumban Gaol. Sayangnya kawasan bonapasogit Naipospos ini sudah ditinggalkan ahli warisnya dan kebanyakan terlantar walau ada sebagian dikelola oleh masyarakat yang tinggal di kawasan itu untuk bercocok tanam seperti tanaman padi dan tanaman kopi sigarar utang. Potensi lahan yang begitu besar seharusnya dapat mensejahterakan marga-marga keturunannya untuk swasembada di bidang pangan dan perekonomian.

Dolok Imun sebagai awal tempat berseraknya marga-marga keturunan Naipospos merupakan kawasan yang relatif datar seluas ribuan hektar dan terdapat satu gunung tersendiri dimana puncaknya saat ini dikelola oleh perhutani sebagai hutan lindung yang ditanami pohon-pohon pinus, sementara pohon-pohon pinus yang terdapat di dataran kaki Dolok Imun sudah habis ditebangi. Di Dolok Imun terdapat situs-situs yang dianggap sebagai peninggalan Naipospos dan keturunannya berupa pancuran tempat pemandian, ongokanonggokan batu yang dimitoskan dapat bergerak sendiri berpindah-pindah dan tempat-tempat yang diceritakan sebagai tempat ‘sombaon’. Dari peta vulkanologi diketahui bahwa Dolok Imun adalah gunung yang aktif yang terletak pada kordinat 2.158°Utara dan 98,93°Timur dengan ketinggian 1505 meter. Gunung ini terbentuk pada masa akhir Pleistocene atau Helocene yaitu sekitar 10.000 tahun yang lalu. Dekat dengan Dolok Imun ini terdapat pula gunung aktif yang disebut Hela Toba dimana saat ini yang disebut Aekrangat Sipoholon sebagai kawasan wisata pemandian airpanas.

Oleh: Maridup Hutauruk

Sumber:

  1. Pustaha Tumbaga Holing – Raja Patik Tampubolon
  2. Pustaha Batak – W.M. Hutagalung
  3. Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945 – Bungaran Antonius Simanjuntak
  4. Raja Batak – Sadar Sibarani
  5. Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba – J.C. Vergouwen
  6. Berbagai sumber lain

Sumber: Naipospos Online

  • Trackback are closed
  • Comments (0)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: