Tanggapan Sekitar Polemik Marga Keturunan Toga Naipospos dan Keturunannya

Oleh: Ama Natalia Lumbangaol

Setelah membaca beberapa tulisan yang ada pada website Naipospos.net penulis ingin memberi sedikit tanggapan. Namun sebelumnya lebih dahulu memperkenalkan nama Ama Natalia Lumban Gaol saat ini berdomisili di Malang.

Tanggapan ini dimaksudkan untuk memberi warna atau untuk melengkapi pendapat dari beberapa penulis sebelumnya yang didominasi referensi atau sumber ceritera yang dituturkan oleh orangtua yang tinggal di sekitar Silindung & Sipoholon. Sedangkan penulis bersal dari daerah Humbang tempat parserahan keturunan Sitoga Marbun sehingga sumber yang diperoleh juga didominasi dari ceritera yang dituturkan oleh orangtua yang bermukim dikawasan Humbang. Dengan demikian diharapkan yaitu: Pertama, ada penyeimbang atas beberapa tulisan sebelumnya.

Dalam tanggapan ini kemungkinan terdapat perbedaan atau deviasi dibanding dengan tulisan sebelumnya hal ini disebabkan sumber referfensi atau ceritera yang berlainan serta jarak waktu kejadian sampai saat ini sudah begitu lama sehingga kemungkinan ada cerita yang terlewatkan dari waktu ke waktu. Komunikasi antara Humbang dengan sipoholon pada jaman dulu ikut menjadi salah satu penyebab terjadinya perbedaan karena tidak ada yang meluruskannya dalam waktu yang sangat lama. untuk memperbaiki mengalami hambatan karena jarak yang berjauhan. Harapan kedua daptemukn benang merah mengenai polemik marga keturunan Raja Naipospos sehingga tidak membingungkan kita keturunan Raja naipospos dan generasi yang akan datang.

Jika ada dalam tulisan yang yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca mohon dimaafkan, karena penulis brrermaksud disini bahwa tulisan inilah yang paling benar. Tetapi mari kita dari keturunan Raja Naipospos sama-sama memberi pendapat dan setiap pendapat kita hargai, Mudah-mudahhan dengan adanya website Naipospos.net ini bisa dijadikan sebagai sarana pemersatu bagi kita keturunan Raja Naipospos bukan jadi sarana pertentangan dan saling menyalahkan salah satu pihak.

Dasar yang digunakan oleh penulis dalam memberi tanggapan adalah: pertama, ceritera dari orangtua (terutama yang berdomisili di daerah Humbang) karena saat ini kita sulit untuk mendapat referensi yang otentik. Penulis sependapat dengan yang menyebutkan bahwa orangtua kita dapat menceriterakan dengan rinci sebuah ceritera walapun kejadiaan itu sudah beberapa generasi, namun karena ceritera itu disampaikan secara lisan sehingga kemungkinan terjadi kehilangan alur ceritera sulit dihindarkan. Maka dengan demikian kita jangan saling menyalahkan jika terdapat perbedaan karena cerita yang sampai saat ini (generasi sekarang) sumbernya dari orangtua kita masing-masing. Hendaknya suatu perbedaan kita sikapi sebagai pelengkap cerita yang kita dapat sebelumnya. Kedua, penulis juga memakai logika dengan melihat fakta yang ada saat ini.

Dibawah ini penulis menganggapi beberapa tulisan atau pendapat dari beberapa penulis yang ada pada website naipospos.net yaitu:

Tanggapan Pertama:

Atas tulisan Saudara Maridup dalam tulisan yang berjudul “Dolok Imun”.

1. Menyebutkan: “isteri kedua dari Raja Naipospos adalah boru Sihotang dari Muara”.  

Menurut penulis kurang tepat, karena keturunan Toga Marbun ada ikatan “padan” dengan Marga Sihotang. Jika nenek moyang marga Marbun adalah boru Sihotang, apakah seseorang marpadan dengan hula-hulanya sendiri?

2. Selanjutnya menyebut:: “bahwa secara biologis bahwa lebih dahulu lahir seorang putra dari boru Sihotang (isteri kedua) kemudian lahir seorang putra dari boru Pasaribu (isteri pertama) namun ada pemahaman konsep dalihan natolu sebagai solusi bahwa Marga Pasaribu hula-hula siahaan dan Marga Sihotang menjadi hula-hula Sihotang”.

Penulis sependapat hula-hula siahaan adalah hula-hula dari isteri pertama, tetapi tidak dapat menerima pendapat yang menyatakan bahwa keturunan dari isteri pertama otomatis menjadi siahaan, karena adat (= aturan) yang berlaku di daerah Humbang maupun di daerah Silindung adalah anak yang lebih dahulu lahir berhak disebut “siahaan” dan bukan urutan hula-hula menentukan partuturan partubu . Namun demikian tidak begitu penting lagi saat ini, karena sebagian dari keturunan Raja Naipospos sudah masiolian dan beberapa marga dari keturunan telah terikat oleh “padan” yaitu : Marga Lumban Batu dengan Marga Hutauruk, Marga Banjarnahor dengan Marga Simanungkalit dan Marga Lumban Gaol dengan Marga Situmeang.

3. Yang berikutnya yang ingin ditanggapi adalah yang menyebutkan …Oleh karena kegiatannya maka Naipospos pergi kearah Muara dan disana Naipospos memperisteri boru Sihotang dan mendapatkan keturunan (namanya belum diketahui). Pada saat kembali ke Dolok Imun ternyata diapun sudah mendapatkan keturunan dan diberi nama Martuasame. Naipospos dengan gentlemen mengakui bahwa diapun sudah mendapat keturunan dari boru Sihotang di Muara, maka boru Pasaribu isterinya menyebut Naipospos dengan “marbuni” atau mengambil isteri tanpa sepengetahuan isteri ypertamanya. Selanjutnya disebutlah keturunan Naipospos dari boru Sihotang bernama Marbun.

Dalam hal ini timbul beberapa pertanyaan, yaitu: 1) Jika Naipospos pergi ke Muara untuk suatu kegiatan (tujuan jelas) berarti jika tidak kembali dalam waktu tertentu, akan timbul pertanyaan dan akan ada upaya pencarian atau mencari tahu kenapa tidak pulang. 2) Kemudian disusul dengan pertanyaan dalam berapa lama Naipospos meninggalkan Dolok Imun, kemudian kembali mendapatkan isterinya pertamanya sudah mendapatkan keturunan. Jika dalam waktu tahunan (kemungkinan) karena dalam lagenda tersebut tidak dijelaskan sejak berangkat dari Dolok Imun. Jika kita buat analisa secara normal usia bayi dalam kandungan adalah 9 bulan. Apakah Naipospos tidak sadar pada saat meninggalkan isterinya sudah berbadan dua? Atau masih kosong? Tetapi tiba-tiba kembali sudah punya keturunan, jika demikian yang dilahirkan isterinya pertamanya boru Pasaribu keturunan siapa?? Hal ini sangat penting untuk menjelaskan siapa putra dari Naipospos yang lahir lebih dulu. 3) Pertanyaan berikutnya, dalam pemberian nama “Marbun” berasal dari “marbuni” (bahasa Indonesia=sembunyi, tidak jelas, curang, takut karena berbuat salah) yang diberikan oleh isteri pertama boru Pasaribu kepada anak yang dilahirkan isteri kedua (boru Sihotang), apakah nama pemberian tersebut (marbuni) langsung diterima oleh Naipospos dan isteri keduanya?? Apakah lajim dalam masyarakat Batak nama anak dari isteri kedua diberikan oleh isteri pertama?

Dari ceritera yang didapat penulis bahwa Naipospos mencari isteri kedua adalah sepengetahuan dan diberangkatkan karena isteri pertama sudah lama menikah tetapi tidak mendapatkan keturunan Setelah menikah dengan isteri kedua (belum punya anak) Naipospos sering mengunjungi isteri pertamanya. Suatu saat Naipospos mendapat keturunan dari Isteri kedua dan beberapa bulan menyusul dari isteri pertama, jadi tidak ada yang ‘marbuni”. Nama Marbun adalah nama (sama dengan misalnya: Marolop, Martua dsb) bukan berasal dari kata “marbuni”.

 

 

Tanggapan Kedua;

Atas tulisan Saudara Maridup dalam tulisan yang berjudul “Apa Benar Naipospos Menurunkan 7 Marga?

Disebutkan “bahwa terjadi pertikaian antara Sibagariang dengan pomparan Marbun yang mengarah kepada pembunuhan sehingga dari kelompok Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang mengungsikan kelompok Marbun kearah Humbang ke kampung Marga Sibombing dan sebagai cikalbakal timbulnya perjanjian atau “padan” di antara mereka”.

Disini ada perbedaan versi ceritera yang didapat oleh penulis tentang cikal bakal “parpadanan” menurut ceritera orang tua dari Humbang adalah sebagai berikut: pada suatu saat terjadi pertikaian antara keturunan Raja Naipospos yang tinggal di bonapasogit (Sipoholon dan Silindung) yaitu keturunan dari isteri pertama (Sibariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang) dengan keturunan Si Opat Pisoran (Marga Hutabarat, Marga Panggabean, Marga Hutagalung, Marga Lumban Tobing). Hal ini terdengar oleh keturunan Marbun di Humbang (perantauan), sehingga keturunan Marbun dalam waktu yang singkat mengadakan pertemuan dan memutuskan bahwa kaum laki-laki dewasa berangkat ke daerah Silingdung/Sipoholon untuk membantu saudaranya. Konon pertikaian itu berlangsung lama. Dari Kelompok Marbun tinggal di rumah saudaranya dari kelompok Sipoholon (keturunan isteri pertama), Karena persiapan bekal (teruma pakaian, saat itu ulos) tidak banyak dibawa kelompok Marbun dari Humbang sehingga mereka ingin meminjam ulos (pakaian saat itu) kepada tuan rumah, namun timbul permasalahan karena kelompok (keturunan) Marbun dianggap “siahaan” (dipanggil angkang) dari kelompok (keturunan) Sipoholon. Dalam adat Batak bahwa isteri dari anggi (dipanggil anggi boru) dalam tatanan hubungan kekeluargaan sehari-hari adalah “marsubang”. Karena marsubang (tidak bebas bicara tanpa ada orang lain mendampingi) demikian juga tentang pakaian yang telah dikenakan (dipakai) oleh anggi boru tidak selayaknya dipakai atau dipinjam oleh hahadolinya, sehingga kelompok Marbun segan untuk meminjam pakaian tuanrumah.

Hal itu diketahui oleh kelompok Sipoholon, maka untuk mengatasi permasalahan tersebut diadakan suatu pertemuan antara kelompok Marbun dan Sipoholon dan menghasilkan suatu kesepakatan atau “padan” yaitu: Keturunan Lumban Batu marpadan dengan Keturunan Hutauruk, keturunan Banjarnahor dengan Keturunan Simanungkalit dan Keturu nan Lumban Gaol dengan Keturunan Situmeang”. Sedangkakan keturunan dan Sibagariang tidak diikutkan karena sebelumnya ada perselisihan dengan keturunan 6 marga tersebut. Dalam padan tersebut ditetapkan bahwa: 1) keturunan yang saling marpadan tidak boleh kawin. 2) Barang siapa dari keturunan yang saling mengikat padan datang ke rumah keturunan parpadannya ditetapkan bahwa tuan rumah dianggap siahaan dan sebaliknya. Misalnya keturunan Lumban Gaol berkunjung ke rumah keturunan Situmeang maka saat itu menjadi siahaan adalah keturunan Situmeang.

Tanggapan Ketiga:

Atas tulisan Saudara Naipospos Sibagariang dalam tulisan yang berjudul “Kisah Raja Naipospos dan Keturunannya”

1. Menyebutkan bahwa: “putera Naipospos (gelar Martuasame) mempunyai 5 (lima) orang putera, yaitu: Donda Hopol (cikal bakal marga Sibagarian), Donda Ujung (cikal bakal marga Hutauruk), Ujung Tinumpak (cikal bakal Simanungkalit), Jamita Mangaraja (cikal bakal marga Situmeang) dan Marbun (cikal balak marga Lumban batu, Banjarnahor dan Lumban Gaol”.

Menurut silsilah yang didapat oleh penulis dari orangtua dan dari beberapa buku referensi menyebutkan bahwa Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera dari dua orang isteri. Dari isteri pertama yaitu Martuasame (Sipoholon) dan Marbun dari isteri kedua. Hal ini sesuai (sependapat) dengan tulisan dari Saudara Maridup dalam “Dolok Imun”.

Apabila putera raja naipopos ada 5 (lima) timbul pertanyaan: apakah 6 pihak marga yang marpadan tidak sederajat (tingkat generasi yang sama)? Karena jika Donda Ujung (Hutauruk), Ujung Tinumpak (Simanungkalit) dan Jamita Mangaraja (Situmeang) putera langsung dari Raja Naipospos sedangkan Lumban Batu, Banjarnahor dan Lumban Gaol merupakan pahompu dari Raja Naipospos. Jika demikian “parpadanan” antara keturunan Lumban batu dengan keturunan Donda ujung (Hutauruk), antara keturunan Banjarnahor dengan keturunan Ujung Tinumpak (Simanungkalit), dan antara keturunan Lumban Gaol dengan keturunan Jamita Mangaraja (Situmeang), adalah parpadanan 2 (dua) generasi yang berbeda (antara anak dengan bapak) bukan sesama saudara yang selevel generasinya.

2. Menyebutkan bahwa: ”toga adalah kumpulan dari marga-marga”.

Memang bagi sebagian marga hal itu terjadi tetapi ada juga “toga” yang menjadi “marga”, hal tersebut dapat kita baca dalam tulisan yang sama menyebutkan Raja Sumba menurunkan Toga Simamora dan Toga Sihombing, dimana saat ini masih banyak yang menggunakan Simamora dan Sihombing dibelakang namanya sebagai identitas marganya. Fakta saat ini juga sebagian keturunan dari Raja Naipospos menggunakan “Naipospos” sebagai marga walaupun sudah merupakan kumpulan marga yang disebut “Toga Naipospos”

Demikian juga Toga Marbun pada awalnya pada umumnya keturunannya memakai Marbun sebagai marganya (identitasnya) namun setelah masing-masing meresmikan atau memuliakan nama nenek moyangnya menjadi marga yaitu Lumban Batu, Banjaarnahor dan Lumban Gaol. Saat ini hanya sebagian dan keturunan Toga Marbun yang memakainya kebanyakan dari keturunan Lumban Batu, Karena marga Marbun sudah menjadi 3 marga maka Marbun berobah menjadi “Toga Marbun”.

Untuk Toga Sipoholon sebagian pendapat menyatakan bahwa tidak ada, karena Sipoholon adalah nama suatu daerah, namun hal ini adalah sesuatu hal yang biasa terjadi. Fakta yang ada saat ini banyak nama marga berasal dari suatu nama daerah, dapat kita lihat banyak marga-marga yang sama dengan nama daerah, misalnya “huta” seperti Hutauruk, Hutabarat, Hutajulu, Hutahaean, Hutagalung dan lain-lain atau “lumban” misalnya: Lumba Gaol, Lumban Batu, Lumban Raja dan lain-lain atau “banjar” misalnya: Banjarnahor. Marbun juga saat ini merupakan nama suatu daerah atau kawasan di Humbang tepatnya kecamatan Pollung. Kebiasaan orang tua kita dahulu untuk memanggil seseorang menyebut nama kampung asalnya, misalnya: namanya si “x” yang berasal dari huta dolok, maka si “x’ tersebut dipanggilnya “huta dolok”. Hal ini terjadi karena namanya tidak tahu atau tidak hafal atau karena pennyebutan nama langsung saat itu dianggap kurang menghormati. Fakta seperti ini juga masih sering terjadi saat ini, misalnya jika seseorang menyebut nama kecil (goar sidanak) dari orangtuanya maka hal ini bagi sebagian orang sudah dianggap merupakan pelecehan atau tidak menghormati orangtuanya dan bisa menimbulkan amarah bagi putranya yang mendengar.

Kembali kepada Toga Sipoholon yang bagi sebagian tidak mengakuinya perlu pengakajian lebih lanjut karena berdampak akan adanya revisi silsilah terutama bagi keturunan Raja Naipospos dari isteri pertama (Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang), dimana ada satu generasi yang hilang berdasarkan silsilah yang telah digunakan selama ini. Silsilah yang dimaksud penulis disini adalah silsilah yang terdapat di beberapa tulisan yang sudah beredar atau yang diketahui oleh masyarakat.

Menurut cerita yang didapat penulis adalah sebagai berikut, Marbun sebagai putera sulung pergi merantau ke daerah Humbang (huta ni tulangna) dan Sipoholon sebagai anak bungsu tinggal dengan orangtuanya. Hal ini juga sering kita lihat pada saat ini bahwa anak bungsu tidak direlakan orangtua pergi merantau. Kemudian Marbun diperantauan menikah dan mempunya 3 orang putera yang menjadi cikal bakal marga Lumban Batu, Banjarnahor dan Lumban Gaol. Sedangkan Sipoholon tinggal di kampung halaman menikah dan mempunyai 4 orang putera yaitu yang menjadi cikal bakal marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang. Seteralah beberapa generasi keturunan Marbun meresmikan nama nenekmoyangnya menjadi marga yaitu “Marbun”. Namun tidak demikian halnya dengan keturunan dari Sipoholon, karena lebih senang menggunakan Naipospos menjadi marganya. Waktu terus berlanjut keturunan Marbun bertambah banyak jumlahnya sehingga meresmikan marga masing-masing yang diambil dari nama nenek moyang mereka masing-masing yaitu Lumban Batu, Banjarnahor dan Lumban Gaol. Demikian juga dari kelompok keturunan Sipoholon juga meresmikan marga dari masing yaitu Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang. Fakta saat ini juga sebagian keturunan dari Raja Naipospos menggunakan “Naipospos” sebagai marga walaupun sudah merupakan kumpulan marga yang disebut “Toga Naipospos”. Contoh yang paling nyata kita lihat yaitu Saudara Sibagariang Naipospos (penulis topik Kisah keturunan Naipospos) masih menggunakan Naipospos sebagai marganya tetapi penulis juga tidak tahu apakah Sibaragiang sebagai nama atau marganya.

Demikian tanggapan yang dapat penulis sampaikan, jika ada perkataan yang kurang berkenan mohon dimaafkan. Seperti dalam pembukaan bahwa tulisan ini tidak mempertentangkan tulisan yang ada tetapi semoga menjadi perekat bagi kita keturunan Raja Toga Naipospos.

Salam dari penulis,

Ama Natalia Lumban Gaol

  • Trackback are closed
  • Comments (3)
    • zadita
    • March 16th, 2011

    mau tanya…
    yg bnr itu yg mn y?
    1. => marbun bs menikah dgn sibagariang, hutauruk, situmenang (kecuali simanungkalit krn marpadan)

    or

    2. => semua anakna Raja Naipospos tdk dpt slg mengawini??

    karena ad kluarga A blg pernyataan yg pertama dan kluarga B blg pernyataan yg kedua…

    tolong sharing nya dari saudara-saudari semuanya..
    bisa dibantu infonya untuk dikirimkan ke email
    (zadita1990@gmail.com)
    thx…

  1. Menurut saya, semua (poin-1 & 2) yang disebutkan Zadita adalah salah. Menurut saya adanya larangan kawin antar marga2 Keturunan Naipospos adalah:
    1. Hutauruk dengan Lumban Batu (berpantang kawin)
    2. Simanungkalit dengan Banjarnahor (berpantang kawin)
    3. Situmeang dengan Lumbangaol (berpantang kawin)
    4. Hutauruk dengan Sibagariang

    Diluar dari 4 hubungan diatas, setahu saya tidak ada larangan (sudah marsiolian).

  2. Muantap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: