Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang Terhadap Pendapat Ama Natalia Lumbangaol Mengenai Tarombo Naipospos

Oleh: Ricardo Parulian Sibagariang

Salam damai sejahtera dari Tuhan sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan.  Hormat dan pujian bagi-Nya, yang telah memberi kasih, berkat, dan perlindungan bagi kita keturunan Raja Naipospos.

Horas dan salam kenal kepada Ampara sekeluarga Ama Natalia Lumban Gaol dari kami sekeluarga Ricardo Parulian Sibagariang. Terima kasih saya ucapkan kepada Ampara atas tanggapan yang diberikan Ampara pada artikel tulisan saya yang berjudul KISAH RAJA NAIPOSPOS DAN KETURUNANNYA.

Khusus terima kasih saya ucapkan kepada Ampara saya Admin Naipospos yang telah menyediakan situs NAIPOSPOS ONLINE ini sebagai wadah untuk saling menyapa dan saling bertukar pikiran bagi kita keturunan Raja Naipospos (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang-Marbun Lumban Batu-Marbun Banjar Nahor-Marbun Lumban Gaol).

Mohon maaf yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada Ampara saya Ama Natalia Lumban Gaol dan bagi kita semua yang membaca artikel ini jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati. Bukan maksud hati untuk menyinggung atau pun memojokkan melainkan meluruskan hal-hal yang telah keliru. Saya dalam hal ini tidak mengajari karena kita sama-sama belajar dari orang tua kita.

Alai molo mardosa donganmi, topot jala ajari ibana, holan hamu padua. Molo ditangihon ho, dapot ho do ibana gabe donganmu muse.Mateus 18:15

Jujur, saya sangat salut dengan Ampara Ama Natalia Lumban Gaol. Karena analisa dan rasa ingin tahu Ampara sangat tinggi. Namun dalam kerendahan hati, saya mengajak kita bersama keturunan Raja Naipospos untuk membuka hati menerima pernyataan kita masing-masing. Setelah itu mari kita membandingkan dan mnguji dengan apa yang kita ketahui. Karena tak selamanya apa yang kita ketahui adalah 100 % (seratus persen) benar. Akhirnya pun kita memegang apa yang benar.

Untuk menyanggah pernyataan Ampara Ama Natalia Lumban Gaol adalah memang seharusnya pada bagian komentar tulisan Ampara yang berjudul TANGGAPAN SEKITAR POLEMIK MARGA KETURUNAN TOGA NAIPOSPOS DAN KETURUNANNYA. Tetapi supaya lebih jelas, terperinci, dan sistematika maka sanggahan, saya tulis dalam artikel Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang terhadap pendapat Ama Natalia Lumban Gaol mengenai tarombo Naipospos.

Tujuh belas sanggahan

Berangkat dari firman Allah dalam Lukas 16:10

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Hal-hal kecil dalam tarombo Naipospos adalah yang tak pantas dilewatkan begitu saja. Dengan setia dalam hal-hal kecil maka kita berangkat pada hal-hal yang lebih besar lagi dalam tarombo Naipospos.

Menerapkan perkataan Rasul Paulus pada I Tesalonika 5:21

Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.

Segala sesuatu yang telah kita lihat, baca, dan dengar mengenai tarombo Naipospos selama ini belum tentu benar. Bahkan yang kita dapat dari orang tua kita sendiri belum tentu benar 100 % (seratus persen).

Dunia penuh dengan penyesat dan kesesatan. Rasul Paulus menekankan hal tersebut agar kita tidak turut sesat.

Demikian halnya pendapat tarombo Naipospos. Mari kita uji yang kita tahu selama ini dan yang kita dengar dari orang lain. Jangan ada sikap egoisme yang mementingkan bahwa apa yang diketahuinya sudah pasti yang paling benar.

Izinkan saya mengambil pengandaian dari segi orang Kristiani.

Seandainya para nenek moyang kita berpegang teguh bahwa apa yang dipercayai mereka secara turun-temurun adalah yang paling benar maka mereka dan mungkin hingga kita saat ini tidak memeluk agama Kristen. Tetapi oleh terang kuasa Tuhan maka kita tertebus dalam darah Anak Allah yang kudus. Sehingga kita menjadi orang yang percaya kepada Bapa dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Mari menguji segala sesuatu dan memegang yang benar.

Terlebih dahulu saya mohon maaf kepada Ampara Ama Natalia Lumban Gaol atas segala sanggahan saya berikut apabila ada perkataan saya yang kurang berkenan di hati.

Saya menyanggah pernyataan Ampara bukan bermaksud untuk memojokkan tetapi membangun.

Berikut 17 (tujuh belas) sanggahan saya.

Sanggahan ke-1 (pertama)

Paragraf ke-4 (keempat)

……. Komunikasi antara Humbang dengan sipoholon pada jaman dulu ikut menjadi salah satu penyebab terjadinya perbedaan karena tidak ada yang meluruskannya dalam waktu yang sangat lama. untuk memperbaiki mengalami hambatan karena jarak yang berjauhan. …….

Ampara saya Ama Natalia Lumban Gaol mengaku tinggal di Malang dan Ampara tahu sedikit banyaknya tarombo Naipospos. Benar atau tidaknya itu soal belakangan.

Memang kita akui bahwa alat transportasi saat ini cukup memadai dibanding zaman dahulu. Kini jarak tidak lagi menjadi jurang pemisah.

Ampara mengaku tinggal di Malang. Mengapa Ampara tahu sedikit banyaknya tarombo Naipospos? Sekali lagi benar atau tidaknya adalah persoalan belakang. Jadi jarak bukanlah alasan mengapa terjadi perbedaan pernyataan tarombo Naipospos.

Apalagi adat zaman dahulu amatlah kental dan merupakan hutang yang harus dibayar. Mungkin hal itu sudah mulai berkurang saat ini.

Mari kita perhatikan bersama, kisah pesta yang akhirnya membawa persoalan bagi keturunan Raja Naipospos khusunya marga Sibagariang. Saai itu jarak tidak menjadi pemisah antara Marbun dari Humbang dengan keturunan Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) di Silindung. Marbun berusaha menghadiri pesta tersebut. Apalagi hal tarombo yang begitu penting.

Jadi jarak bukanlah alasan utama.

Kepentingan individual supaya lebih dihormati dan unsur pamalomalohon adalah faktor utama penyebab persoalan tarombo Naipospos saat ini.

Perlu saya tambahkan bahwa tarombo Naipospos pada awalnya adalah satu dan lurus. Jadi tak ada yang perlu diluruskan dulu.

Satu tarombo yaitu Raja Naipospos mempunyai 5 orang putera (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang-Marbun). Namun setelah sekarang tarombo itu tidak lurus alias dipeolhon dari kisah sebenarnya oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Untuk kisah selengkapnya mengenai sejarah parpeol ni tarombonta on dapat Ampara baca pada artikel Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos

Saya berani mengatakan bahwa Marbun (Lumban Batu-Banjar Nahor-Lumban Gaol) pada awalnya pun mengiyakan dan menyetujui bahwa Sibagariang adalah putera sulung Raja Naipospos dan Marbun sebagai yang bungsu. Karena hingga saat ini pun tak ada kata sepakat antar marga Marbun yang menyatakan siapakah siangkangan atau yang sulung. Dari pihak marga Marbun ada yang mengatakan Sibagariang, ada pula yang menyebutkan Toga Sipoholon oleh karena pengaruh pendapat adanya Toga Sipoholon, dan ada yang bertahan menyebutkan Marbun sebagai putera sulung Raja Naipospos.

Sedangkan pada marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang belum pernah saya jumpai yang menyebutkan bahwa Marbun sebagai putera sulung. Meskipun mungkin ada ditemukan oleh para Saudara pembaca artikel ini, dia mungkin buta terhadap tarombo Naipospos yang benar dan dia menggunakan sumber-sumber (buku, internet, dan sebagainya) yang ada dan yang telah salah.

Mengenai kisah pengalaman saya maupun pengalaman keluarga saya dalam menjumpai marga Marbun (Lumban Batu-Banjar Nahor-Lumban Gaol) yang mnyetujui marga Sibagariang sebagai marga yang sulung dalam keturunan Raja Naipospos atau bahkan tidak menyetujuinya akan saya tulis dalam artikel berikutnya kalau Tuhan mengizinkan.

Sanggahan ke-2 (kedua)

Paragraf ke-6 (keenam)

…….Dasar yang digunakan oleh penulis dalam memberi tanggapan adalah: pertama, ceritera dari orangtua (terutama yang berdomisili di daerah Humbang)…….

Ampara Ama Natalia Lumban Gaol menyebutkan bahwa sumber cerita dari orang tua kita di Humbang. Memang tak ada Ampara sebutkan kata mutlak secara tersurat dari seluruh orang tua di Humbang yang mengatakan bahwa Marbun sebagai putera sulung Raja Naipospos. Namun perlu sebagai informasi bagi kita bersama bahwa saya berani mengatakan bahwa tak ada kata sepakat dari marga Marbun yang tinggal di Humbang atau pun di luar daerah Humbang mengenai siapakah putera sulung Raja Naipospos, seperti yang telah saya singgung pada Sanggahan ke-1 (pertama) .

Sanggahan ke-3 (ketiga)

Paragraf ke-3 (ketiga) pada point ke-3 tanggapan pertama

…….Nama Marbun adalah nama (sama dengan misalnya: Marolop, Martua dsb) bukan berasal dari kata “marbuni”.

Maaf terlebih dahulu saya ucapkan kepada Ampara saya Maridup Hutauruk karena saya turut campur dan mendahului Ampara dalam menyanggah tanggapan ampara kita Ama Natalia Lumban Gaol terhadap tulisan Ampara Maridup Hutauruk pada artikel Dolok Imun

Manat mardongan tubu. Ndang namangalangkai jala ndang namangorui sangap ni Amparaniba Maridup Hutauruk ahu. Santabi jala ondihon (maafkan) ahu ate, Ampara. Tu hadengganon jala hasadaonta do on.

Ampara Ama Natalia Lumban Gaol, kalau saya mengatakan bahwa Raja Naipospos lah yang memberikan nama pada lima orang puteranya itu (Donda Hopol-Donda Ujung-Ujung Tinumpak-Jamita Mangaraja-Marbun). Lima nama yang mempunyai makna saling berhubungan dan menjadi doa kepada Sang Pencipta.

Mengenai makna nama-nama dari lima putera Raja Naipospos telah saya tambahkan pada artikel KISAH RAJA NAIPOSPOS DAN KETURUNANNYA dan juga pada wikipedia. Nama-nama yang mempunyai makna saling berkaitan dan menjadi salah satu bukti bahwa Raja Naipospos adalah sosok yang gabe mempunyai lima orang putera.

Demikian pula halnya Marbun yang disamping mempunyai makna sahala hagabeon juga ternyata berasal dari kata marbuni.

Raja Naipospos tidak diberangkatkan dan tidak sepengetahuan isteri I (pertama) boru Pasaribu ketika Raja Naipospos mengambil pariban sendiri sebagai isteri II (kedua) boru Pasaribu. Sehingga karena tidak mau merasa dimadu dan perempuan mana yang mau dimadu maka timbul rasa kurang cocok antara isteri I (pertama) dan ister II (kedua) yang meskipun sebenarnya kakak-baradik dari satu bapak atau namarpariban. Rasa kurang cocok ini pun sampai kepada antar keturunan masing-masing isteri.

Marbun sebagai satu-satunya putera dari isteri II (kedua) boru Pasaribu merasa tidak tahan lagi akan perlakuan dari empat orang putera Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) maka Marbun bersama ibundanya dan satu orang saudara perempuan (ito) seibunya pergi ke daerah Humbang sambil membawa jerek sebagai jenis ogung warisan yang telah dibagikan Raja Naipospos sebelumnya. Kebetulan hanya Marbun dan satu orang anak perempuan (boru) keturunan Raja Naipospos dari isteri II (kedua) boru Pasaribu.

Mengenai nama-nama ogung (gong) sebagai warisan yang dibagikan kepada lima putera oleh Raja Naipospos pun telah saya tambahkan pada artikel KISAH RAJA NAIPOSPOS DAN KETURUNANNYA dan juga pada wikipedia. Ogung yang dapat menjadi salah satu bukti bahwa Raja Naipospos adalah adil terhadap keturunannya dan mempunyai lima orang putera.

Dari kisah di atas berarti telah timbul ketidakcocokan sejak awal. Atau dengan kata lain Raja Naipospos marbuni ketika mengambil isteri II (kedua) boru Pasaribu.

Untuk penamaan seseorang pada zaman dahulu adalah lebih dominan berasal dari kejadian yang terjadi pada waktu dia lahir atau masih kecil dan juga dari kebiasaan pada masa hidupnya. Kemudian, sebagian huruf pada kosakata tersebut dikurangi atau diubah atau ditambah untuk memperhalus penyebutan dan menghormati orang tersebut.

Saya ambil pemisalan mengenai marga saya Sibagariang.

Nama asli Sibagariang adalah Donda Hopol. Oleh karena keuletan dari Donda Hopol dalam mengolah lahan pertaniannya maka orang pun bertanya-tanya dalam hati, bagaimana Donda Hopol dapat mengolah lahannya, mengingat sulitnya dijumpai alat-alat pertanian pada masa itu. Orang pun berkata bahwa lahannya tersebut digariangi oleh Donda Hopol. Sehingga orang-orang memberi julukannya Sipanggariang. Kata itu pun diperhalus menjadi Sinagabariang. Oleh karena sesuatu hal dan oleh kesepakatan bersama maka Sinagabariang diubah menjadi Sibagariang sebagai marga yang dipakai keturunan Donda Hopol secara umum.

Demikian pula Marbun yang berasal dari kata marbuni.

Maaf, Ampara sudah salah jika mengatakan bahwa kata marbun memiliki persamaan arti dengan kata marolop dan martua. Maaf, bagaimana pemahaman dan penguasaan Ampara dalam kosakata bahasa Batak?

Kata marbun adalah kata dalam bahasa Batak pada zaman dahulu yang sudah amat jarang digunakan saat ini dalam percakapan sehari-hari. Kata bun berarti gok atau mokmok. Berati kata marbun berarti margok atau pun marmokmok sehingga cukup berhubungan dengan makna sahala hagabeon yang dikandungnya. Tetapi tak bisa dipungkiri bahwa disamping itu sejarah pemberian nama berasal dari kata marbuni oleh karena suatu kisah yang terjadi.

Sanggahan ke-4 (keempat)

Paragraf ke-3 (ketiga) pada tanggapan kedua

…….Disini ada perbedaan versi ceritera yang didapat oleh penulis tentang cikal bakal “parpadanan” menurut ceritera orang tua dari Humbang adalah sebagai berikut: pada suatu saat terjadi pertikaian antara keturunan Raja Naipospos yang tinggal di bonapasogit (Sipoholon dan Silindung) yaitu keturunan dari isteri pertama (Sibariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang) dengan keturunan Si Opat Pisoran (Marga Hutabarat, Marga Panggabean, Marga Hutagalung, Marga Lumban Tobing). Hal ini terdengar oleh keturunan Marbun di Humbang (perantauan),…….

Jujur, saya tidak munafik dan tidak pamalomalohon (sok pintar) dalam sejarah terjadinya padan antar keturunan Raja Naipospos kecuali marga marga Sibagariang. Karena marga saya tidak ikut dalam padan itu. Mengenai penyebab sebenarnya akan saya jelaskan pada sanggahan saya berikutnya.

Setelah saya uji dan renungkan adalah benar bahwa padan terjadi bukanlah karena ada persoalan antara keturunan Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) terhadap Si Opat Pisoran maka Marbun datang membantu dan terjadilah padan kecuali kepada marga Sibagariang. Karena sesuai dengan kisah yang saya dengarkan bahwa tak ada persoalan yang cukup berarti terhadap keturunan Si Opat Pisoran. Bukti nyata bahwa keturunan Raja Naipospos dan Si Opat Pisoran hidup secara berdampingan dan hidup damai. Karena biasanya, apabila telah terjadi pertikaian apalagi yang cukup lama maka apa pun ceritanya, pihak yang kalah akan pergi sejauh mungkin dan pihak yang menang akan menguasai tanah pihak yang kalah. Nyata, Dolok Imun sebagai huta parjolo pinungka ni Raja Naipospos tetap menjadi tanah marga Naipospos dan tidak dikuasai Si Opat Pisoran. Demikian pula sebaliknya, Rura Silindung sebagai huta parjolo pinungka ni Guru Mangaloksa menjadi tanah Si Opat Pisoran dan tidak dikuasai marga Naipospos.

Sebagai contoh adalah kisah keturunan Tuan Sorbadibanua antara keturunan isteri I Nai Antingmalela boru Pasaribu (Sibagotnipohan-Sipaettua-Silahisabungan-Raja Oloan-Raja Huta Lima) dengan keturunan isteri II Boru Sibasopaet (Raja Sumba-Raja Sobu-Raja Naipospos). Oleh karena pihak isteri II Boru Sibasopaet yang kalah pada suatu perlombaan yang berujung pada persoalan berat maka mereka sebisa mungkin jauh dari keturunan isteri I Nai Antingmalela boru Pasaribu. Kisah-kisah lain tentu masih banyak lagi.

Jadi kisah menurut Ampara Ama Natalia Lumban Gaol perlu dikaji ulang.

Perlu saya tambahkan pada Sanggahan ke-4 (keempat) ini bahwa padan itu hanya semata meredakan persoalan yang mungkin bisa berujung pada putusnya hubungan tali persaudaraan. Tetapi oleh kebijaksaan dari Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang maka timbullah padan dengan keturunan Marbun. Memang jika dilihat dari segi urutan waktu lahir , Marbun lebih dahulu lahir daripada Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Namun karena Sibagariang lahir dari isteri I (pertama) boru Pasaribu dan yang pertama lahir daripada Marbun, maka Marbun sebagai yang satu-satunya putera Raja Naipospos dari isteri II (kedua) menjadi yang bungsu (siampudan). Untuk meredakan persoalan maka keturunan Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang merendahkan hati melalui padan parhahamaranggion.

Agar hubungan persaudaraan tidak putus maka diikat pula dengan padan naso jadi masiolian.

Namun bagi penulis, padan parhahamaranggion itu sepertinya kurang efektif. Mungkin para dongan tubu saya yang diikat padan parhahamaranggion ini dapat membantu saya selaku marga Sibagariang yang tidak diikat padan parhahamaranggion.

Padan parhahamaranggion jelas kita ketahui bahwa siapa yang bertamu dialah menjadi anggi (adik) dan tuan rumah menjadi haha (kakak). Sekarang, misalkan apabila Situmeang dan Lumban Gaol bertemu di jalan, siapakah menjadi haha atau pun anggi di antara mereka? Karena tak ada yang bertamu dan menjadi tuan rumah.

Menurut saya, Situmeang menjadi haha (kakak) dan Lumban Gaol menjadi anggi (adik) karena bagi saya dari silsilah keturunan Raja Naipospos adalah bahwa Marbun lah sebagai putera bungsu. Tetapi mari kita saling bertukar pikiran melalui komentar para Saudara.

Sanggahan ke-5

Paragraf ke-4 (keempat) pada tanggapan kedua

…….Sedangkakan keturunan dan Sibagariang tidak diikutkan karena sebelumnya ada perselisihan dengan keturunan 6 marga tersebut. …….

Memang benar bahwa hingga saat ini Sibagariang tidak diikat padan parhahamaranggion.

Tetapi mari kita berpikir logis.

Apakah selama itu atau bahkan hingga saat ini kah terjadi perselisihan dengan 6 (enam) marga lainnya khususnya Sibagariang dengan Marbun?

Seperti yang telah saya katakan pada Sanggahan ke-4 (keempat) bahwa memang jika dilihat dari segi urutan waktu lahir , Marbun lebih dahulu lahir daripada Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Namun karena Sibagariang lahir dari isteri I (pertama) boru Pasaribu dan yang pertama lahir daripada Marbun, maka Marbun sebagai yang satu-satunya putera Raja Naipospos dari isteri II (kedua) menjadi yang bungsu (siampudan).

Inilah yang menjadi bukti nyata hak sulung yang dimiliki Sibagariang dan bukan Marbun. Karena seandainya Sibagariang pada waktu itu atau pun di kemudian hari atau bahkan saat ini membentuk padan parhahamaranggion dengan keturunan Marbun, maka hak sulung Sibagariang tidak akan nyata lagi. Tetapi dengan tidak turut serta dalam padan parhahamaranggion, maka hak sulung Sibagariang nyata dan tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun sebagai putera sulung Raja Naipospos baik dari segi urutan waktu lahir maupun dari parinaon (ibunda yang melahirkan).

Sibagariang adalah putera Raja Naipospos yang lahir dari isteri I (pertama) boru Pasaribu dan yang lahir pertama sekali di antara 5 (lima) orang putera Raja Naipospos.

Sanggahan ke-6 (keenam)

Paragraf ke-3 pada tanggapan ketiga

Menurut silsilah yang didapat oleh penulis dari orangtua dan dari beberapa buku referensi menyebutkan bahwa Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera dari dua orang isteri. …….

Memang benar bahwa buku mengenai tarombo saat ini selalu menyebut bahwa putera Raja Naipospos adalah sebanyak 2 orang (Toga Marbun dan Toga Sipoholon) .

Buku-buku yang telah saya baca antara lain.

  • PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak oleh W. M. Hutagalung, cetakan 1991
  • Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak oleh D. J. Gultom Raja Marpodang
  • Kamus Budaya Batak Toba oleh M. A Marbun dan I. M. T. Hutapea. 1987. Jakarta: Balai Pustaka. (isi buku yang saya ketahui dari situs IMAPASPAR)

Hingga saat ini, belum ada saya temukan buku yang menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera (Toga Sipoholon dan Toga Marbun). Padahal sesuai dengan sejarah perbedaan tarombo Naipospos seperti yang saya tulis pada artikel Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos bahwa pendapat terakhir adalah yang menyatakan Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera (Toga Marbun dan Toga Sipoholon).

Apalagi buku yang memuat tarombo Naipospos yang benar yaitu Raja Naipospos mempunyai 5 orang putera (Sibagariang-Hutauruk-Simaungkalit-Situmeang-Marbun) belum ada saya temukan. Para generasi muda keturunan Raja Naipospos yang intelek dan pamalomalohon dalam hal tarombo Naipospos mengarang seenaknya tarombo Naipospos dengan manundalhon (membelakangkan) atau dengan kata lain tanpa pengujian dan perenungan dari pernyataan orang tua yang pasti lebih tahu tarombo Naipospos.

Buku adalah karangan manusia yang perlu diuji.

Sanggahan ke-7 (ketujuh)

Paragraf ke-3 pada tanggapan ketiga

…….Dari isteri pertama yaitu Martuasame (Sipoholon) dan Marbun dari isteri kedua. …….

MARTUASAME adalah julukan Raja Naipospos dan bukan nama salah satu puteranya. Hal ini berhubungan erat dengan pengambilan isteri II (kedua) boru Pasaribu oleh Raja Naipospos, seperti yang telah saya katakan pada Sanggahan ke-4 (keempat).

Konon, adik (pariban) isteri I (pertama) boru Pasaribu rajin membantu Raja Naipospos ketika marsame (membuat bibit padi). Oleh karena Raja Naipospos belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun marbuni (secara sembunyi) berhubungan dengan isteri II (kedua) boru Pasaribu tersebut. Oleh karena telah mengambil dua isteri kakak-beradik boru Pasaribu dan karena kegiatan marsame pada waktu itu, maka Raja Naipospos diberi julukan Martuasame.

Hal itu dapat kita lihat bahwa terdapat hubungan kata marsame dengan kata martuasame. Sehingga Martuasame bukanlah nama salah satu putera Raja Naipospos dan bukan juga nama asli Toga Sipoholon. Karena Sipoholon hanyalah nama daerah yang berasal dari kata sipohulon.

Untuk informasi yang lebih lengkap dan fakta pendukung bahwa Martuasame adalah julukan Raja Naipospos, silahkan Ampara Ama Natalia Lumban Gaol membaca tulisan saya pada arikel yang berjudul SIAPAKAH MARTUASAME ITU SEBENARNYA.

Sanggahan ke-8 (kedelapan)

Paragraf ke-4 pada tanggapan ketiga

…….parpadanan 2 (dua) generasi yang berbeda (antara anak dengan bapak) bukan sesama saudara yang selevel generasinya.

Ampara Ama Natalia Lumban Gaol, ada sedikit kekeliruan dari pernyataan Anda yang menyatakan bahwa parpadanan terjadi pada yang selevel generasinya.

Dalam hal ini Ampara telah salah besar karena Ampara tidak membandingkannya dengan padan yang terjadi antar marga lain yang tidak harus selevel generasinya. Dalam adat Batak, padan tidaklah harus yang selevel generasinya.

Mari kita perhatikan beberapa contoh padan berikut yang tidak selevel generasinya.

Raja Lontung dan Siboru Pareme

Mungkin Ampara Ama Natalia Lumban Gaol pernah mendengarkan lagu tarombo Raja Lontung yang diciptakan oleh Tilhang Gultom dengan Trio Lagona sebagi penyanyinya. Dalam syair lagu itu nampak jelas parpadanan yang terjadi antara Raja Lontung dengan ibundanya Siboru Pareme sebagai berikut.

Bulung motung ma i parpadananna, ompunta si Raja Lontung rampak dohot inana.

Memang saya akui, saya kurang tahu padan apakah yang dimaksud karena marga saya bukan marga keturunan Raja Lontung melainkan Raja Naipospos. Namun yang terpenting kita ketahui adalah bahwa Siboru Pareme adalah ibunda Raja Lontung sendiri. Raja Lontung pun mengadakan padan dengan Siboru Pareme yang tidak selevel generasi.

Naibaho dengan Sihombing Lumban Toruan

Menurut buku PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak oleh W. M. Hutagalung, cetakan 1991 bahwa Datu Galapang alias Inarnaiborngin yang merupakan keturunan Naibaho dan saudara kembar dengan Siboru Naitang lari ke kampung marga Sihombing Lumban Toruan. Singkat cerita, Raung Nabolon keturunan Borsak Sirumonggur pun marpadan dengan Datu Galapang.

Meskipun sebenarnya hubungan kekerabatan tidak begitu dekat lagi tetapi jika level generasinya dicocokkan maka akan tampak bahwa mereka yang marpadan tidak selevel lagi dalam hal generasi.

Marbun dengan salah satu putera Sigodang Ulu

Mungkin kita tak perlu jauh-jauh. Kita ambil saja contoh sejarah terjadinya padan antara Marbun dengan Sihotang.

Menurut buku PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak oleh W. M. Hutagalung, cetakan 1991 bahwa Marbun marpadan dengan putera bungsu Sigodang Ulu (Sihotang) yang bernama Lumban Batu. Hal ini mengakibatkan Marbun dan Sihotang tidak masiolian.

Sekarang mari kita perhatikan level generasinya. Yang mempunyai level generasi yang sama adalah Raja Oloan (ayahanda Sigodang Ulu) dengan Raja Naipospos (ayahanda Marbun) sebagai 2 dari 8 bersaudara putera Tuan Sorbadibanua. Sedangkan yang selevel generasinya dengan Marbun adalah Sigodang Ulu. Akan tetapi, mengapa Marbun malahan berpadan dengan putera bungsu Sigodang Ulu sendiri? Berarti terajadi parpadanan yang tidak selevel.

Tetapi maaf ya, Ampara, saya bukan mau mengajari. Saya hanya mengutip dari buku saja. Karena mungkin Ampara lebih tahu sejarah parpadanan Sihotang dengan Marbun. Namun yang pasti sesuai dengan kisah yang terdapat dalam buku adalah bahwa padan dapat terjadi pada yang tidak selevel generasinya.

Sihotang dengan Sibagariang,Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang yang dibawakan oleh Marbun

Oleh karena Marbun tidak masiolian dengan Sihotang maka Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang turut pula marpadan.

Sesuai dengan pernyataan daompung Laris Kaladius Sibagariang bahwa ada kesepakatan bersama marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan terlebih Marbun sebagai pembentuk padan pertama menjadikan Sihotang sebagai saudara (namarhahamaranggi) dan sebaliknya. Oleh sebab itu, belum ada saya temukan hingga saat ini marga Naipospos yang kawin dengan Sihotang. Meskipun para Saudara pembaca mungkin ada menemukan, saya merasa hal itu adalah karena ketidaktahuan atau bisa saja disengaja oleh karena cinta. Sama seperti halnya kabar yang saya dengar bahwa ada Naibaho yang kawin dengan Sihombing Lumban Toruan. Tetapi pasti ada akibat atau pun efek yang ditimbulkan.

Sekarang mari kita melihat level generasinya. Marbun telah membentuk padan dengan keturunan Sigodang Ulu. Padahal padan kemudian berlaku atau pun dibentuk bagi keturunan Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang dengan keturunan Sihotang adalah setelah Donda Hopol, Donda Ujung, Ujung Tinumpak, Jamita Mangaraja, dan Marbun yang selevel generasinya.

Nampak jelas padan tebentuk bukan harus antara yang selevel generasinya.

Perlu saya tambahkan pada Sanggahan ke-8 (kedelapan) ini bahwa bukanlah Donda Ujung, Ujung Tinumpak, dan Jamita Mangaraja secara individu langsung marpadan dengan putera anggina yaitu Lumban Batu, Banjar Nahor, dan Lumban Gaol. Karena pada waktu itu, masing-masing lima putera Raja Naipospos sudah mempunyai keturunan. Secara logika, karena Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang sebagai pembentuk padan adalah empat marga yang kompak bersama dengan Sibagariang dari isteri I (pertama) boru Pasaribu, maka untuk menghindari rasa sendiri (sebatang kara) dari Marbun sebagai satu-satunya putera dari isteri II (kedua) boru Pasaribu, padan dengan Marbun pun dikelompokkan berdasarkan tiga orang puteranya (Lumban Batu-Banjar Nahor-Lumban Gaol). Maka muncullah padan antara keturunan Hutauruk dengan Lumban Batu, keturunan Simanungkalit dengan Banjar Nahor, dan keturunan Situmeang dengan Lumban Gaol. Semua ini semata untuk meredakan persoalan yang cukup berat terjadi agar tali persaudaraan tidak putus.

Sanggahan ke-9 (kesembilan)

Paragraf ke-2 (kedua) pada point ke-2 tanggapan ketiga

…….ada juga “toga” yang menjadi “marga”, …….

Maaf, toga tidak pernah menjadi marga kecuali marga Togatorop yang memang aslinya dulu adalah marga Siborutorop kemudian diubah menjadi Togatorop menurut buku PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak oleh W. M. Hutagalung, cetakan 1991. Seperti halnya Sinagabariang menjadi Sibagariang.

Mari kita renungkan bersama, apakah memang begitu banyaknya nenek moyang kita yang lahir pada zaman dulu dengan melekatnya kata “toga” sebelum namanya? Jelas tidak. Kata toga kemudian digunakan oleh keturunan beberapa nenek moyang untuk menyatakan kumpulan atau pun punguan mereka. Jadi dalam bahasa Batak, toga berarti punguan atau pun kumpulan.

Yang saya herankan adalah bahwa Ampara Ama Natalia Lumban Gaol sepertinya telah salah tafsir atau mungkin kurang pemahaman dan penguasaan kosakata dalam bahasa Batak. Bukankah saya katakan ada baiknya menyebutkan Raja Naipospos sebagai nenek moyang kita. Karena Toga Naipospos lebih mengarah pada kumpulannya bukan nama nenek moyang.

Apalagi menyebut Raja Toga Naipospos seperti yang Ampara lakukan pada artikel Ampara bagian terakhir.

Artinya pun akan semakin ambur-adul yaitu Raja Kumpulan Naipospos.

Sanggahan ke-10 (kesepuluh)

Paragraf ke-4 (keempat) pada point kedua tanggapan ketiga

…….banyak nama marga berasal dari suatu nama daerah, …….

Maaf, Ampara Ama Natalia Lumban Gaol sudah salah besar dalam hal ini. Tidaklah betul bahwa banyak marga berasal dari suatu nama daerah malah sebaliknya banyak nama daerah berasal dari marga.

Sebagai contoh adalah yang Ampara sebutkan yaitu Hutabarat.

Nama asli dari putera Guru Mangaloksa ini adalah Si Raja Nabarat kemudian perkampungannya bernama Hutabarat. Jangan Ampara katakan nama daerah terlebih dahulu daripada marganya. Malah, Si Raja Nabarat terlebih dahulu ada, kemudian berasal dari nama atau marga mereka dibentuk perkampungan Hutabarat.

Demikian halnya Marbun.

Memang nama perkampungan Marbun ada di Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan. Perkampungan Marbun berasal dari nama Marbun sebagai nenek moyang dan bukan nama atau marga Marbun berasal dari nama perkampungan Marbun. Hal ini sebagian besar juga berlaku pada marga-marga lain.

Mengenai Toga Sipoholon, baik asal usul namanya, sejarah terbentuknya, dan sebagainya dapat kita baca pada artikel tulisan saya yang berjudul Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos.

Sanggahan ke-11 (kesebelas)

Paragraf ke-5 (kelima) pada point kedua tanggapan ketiga

…….bagi keturunan Raja Naipospos dari isteri pertama (Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang), …….

Maaf Ampara Ama Natalia Lumban Gaol, sepertinya ada pernyataan Ampara yang kontra (berlawanan). Ampara Ama Natalia Lumban Gaol menyetujui pendapat yang mengatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera yang secara berurutan yaitu Toga Marbun dan Martuasame (Toga Sipoholon). Martuasame (Toga Sipoholon) lahir dari isteri I (pertama) dan Toga Marbun dari isteri II (kedua).

Padahal mengapa Ampara Ama Natalia Lumban Gaol mengatakan keturunan Raja Naipospos dari isteri pertama (Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang)? Dengan menyebutkan pernyataan seperti itu, berarti Ampara Ama Natalia Lumban Gaol menyetujui pernyataan kami yang menyebutkan bahwa Raja Naipospos mempunyai 5 (lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang lahir dari isteri I (pertama) boru Pasaribu dan Marbun lahir dari isteri II (kedua) boru Pasaribu.

Apakah ini bisa dikatakan kesilapan atau tidak disengaja? Karena mengingat analisa Ampara yang tinggi hingga hal yang besar tentang apakah parpadanan itu harus yang selevel generasinya. Padahal ini masih hal yang lebih sederhana dibanding tentang apakah parpadanan itu harus yang selevel generasinya.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.Lukas 16:10

Sanggahan ke-12 (keduabelas)

Paragraf ke-5 (kelima) pada point kedua tanggapan ketiga

…….berdasarkan silsilah yang telah digunakan selama ini…….

Kata selama ini yang Ampara Ama Natalia Lumban Gaol sebutkan bersifat relatif. Memang Ampara Ama Natalia Lumban Gaol tidak menyebutkan bahwa tarombo Naipospos yang menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera yang secara berurutan yaitu Toga Marbun dan Martuasame (Toga Sipoholon) telah digunakan sejak zaman dahulu atau katakan saja tarombo Naipospos yang pertama sekali. Tetapi dalam penafsiran orang dengan menggunakan kata selama ini maka akan merasa bahwa pendapat yang mengatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera yang secara berurutan yaitu Toga Marbun dan Martuasame (Toga Sipoholon) adalah tarombo Naipospos pertama kali padahal tidak sama sekali.

Tarombo Naipospos yang benar adalah bahwa Raja Naipospos mempunyai 5 (lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun.

Kemudian pada tahun 1920-an tarombo Naipospos pun mulai menyimpang dengan menyebutkan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera yang secara berurutan, yaitu: Toga Sipoholon dan Toga Marbun.

Tarombo Naipospos pun semakin menyimpang dan cepat tersosialisasi pada Jubileum 50 Tahun Partangiangan Pomparan Raja Naipospos (tahun 1983) dengan selalu menyebutkan paling dahulu marga Lumban Batu dan Situmeang disebutkan terakhir. Dengan penyebutan seperti itu maka mengibaratkan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera yang secara berurutan yaitu Toga Marbun dan Toga Sipoholon. Tarombo yang telah semakin menyimpang ini pun begitu cepatnya tersebar atau tersosialisasi melalui buku tarombo yang dicetak pertama sekali atau pun yang dicetak ulang setelah tahun 1983.

Khusus buku PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak oleh W. M. Hutagalung, cetakan pertamanya adalah tahun 1926. Mungkin untuk menemukan cetakan pertama buku ini amatlah sulit. Kemungkinan besar dalam buku cetakan 1926 berisikan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera yang secara berurutan yaitu Toga Sipoholon dan Toga Marbun. Hal ini sesuai dengan pengumpulan dan penulisan tarombo termasuk tarombo Naipospos di Sipoholon pada masa penjajahan. Saya berprasangka bahwa buku PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak oleh W. M. Hutagalung telah diubah atau pun direvisi ulang oleh orang yang tidak bertanggung jawab dengan mengubah urutannya bahwa Toga Marbun lah sebagai putera sulung Raja Naipospos. Karena buku yang banyak beredar saat ini pada masyarakat bahkan milik saya pun adalah cetakan tahun 1991.

Untuk sejarah lengkapnya mengenai pengalaman Haran Sibagariang (gelar: Ompu Basar Solonggaron) sebagi mantan Kepala Negeri Huta Raja dalam memperjuangkan tarombo Naipospos yang benar dapat kita baca pada artikel tulisan saya yang berjudul Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos.

Sanggahan ke-13 (ketigabelas)

Paragraf ke-6 (keenam) pada point kedua tanggapan ketiga

Menurut cerita yang didapat penulis adalah sebagai berikut, Marbun sebagai putera sulung pergi merantau ke daerah Humbang (huta ni tulangna)…….

Marbun tidaklah pergi ke daerah Humbang untuk merantau ke kampung tulangna (pamannya).

Saya mulai ragu dan curiga dengan Ampara Ama Natalia Lumban Gaol. Bagaimana mungkin Ampara Ama Natalia Lumban Gaol tahu akan hal tersebut, sedangkan Ampara sendiri tidak ada menyebutkan pada artikel Ampara mengenai boru apakah sebenarnya ibunda Marbun. Maaf, jangan-jangan ada lagi muncul istilah pamalomalohon. Tapi semoga saja tidak.

Dua isteri Raja Naipospos adalah kakak-beradik boru Pasaribu.

Menurut penjelasan Torang Hutauruk seorang yang dituakan di Sipoholon sesuai dengan yang dikutip oleh saudara Maridup Hutauruk bahwa tak ada kesan mangalap boru untuk kedua kalinya oleh Raja Naipospos di luar daerah Silindung. Karena saat itu dan dapat juga mungkin kita lihat hingga saat ini bahwa salah satu daerah bona pasogit Pasaribu adalah Silindung. Fakta mengatakan bahkan yang melahirkan ompung doli suhut saya (Laris Kaladius Sibagariang) adalah boru Pasaribu yang marbona pasogit (berkampung halaman) di Huta Raja, Sipoholon. Jadi tak ada alasan bagi Ampara Ama Natalia Lumban Gaol untuk menyatakan bahwa Marbun pergi ke daerah Humbang untuk merantau ke kampung halaman tulangnya.

Seperti yang sudah saya singgung pada Sanggahan ke-3 (ketiga) bahwa Marbun sebagai satu-satunya putera Raja Naipospos dari isteri II (kedua) boru Pasaribu merasa tidak tahan lagi dengan perlakuan dari Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang sebagai empat orang putera Raja Naipospos dari isteri I (pertama) boru Pasaribu. Marbun, ibundanya, dan satu orang saudara perempuan (ito) seibunya pergi ke daerah Humbang.

Mari kita berpikir logika, begitu luasnya tanah milik marga Naipospos di daerah Silindung. Apakah Marbun akan begitu saja maninggalhon naadong mangareahi nasoada hanya karena alasan merantau? Malah lahan di Dolok Imun saat ini banyak yang belum dimanfaatkan dengan baik.

Sanggahan ke-14 (keempatbelas)

Paragraf ke-6 (keenam) pada point kedua tanggapan ketiga

…….dan Sipoholon sebagai anak bungsu tinggal dengan orangtuanya. Hal ini juga sering kita lihat pada saat ini bahwa anak bungsu tidak direlakan orangtua pergi merantau. …….

Anak sulung pergi merantau dan anak bungsu tinggal bersama orangtuanya bukanlah hal yang mutlak atau biasanya dan tidak bisa menjadi alasan bahwa Marbun sebagai putera sulung.

Mari kita perhatikan pihak maraga keturunan Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang). Mereka sebagian besar tetap tinggal berdampingan di Sipoholon hingga saat ini. Sibagariang sebagai putera sulung tetap tinggal di bona pasogit bersama saudaranya yang lain.

Atau saya ambil contoh pada keturunan Donda Hopol (Sibagariang) pada generasi ke-4 (keempat) marga Sibagariang dari Ompu Sodunggaron.

Keturunan Donda Hopol (Sibagariang) pada generasi ke-4 marga Sibagariang dari Ompu Sodunggaron adalah Namora Silambok dan Guru Sohalompoan. Atau dengan kata lain Ompu Sodunggaron (genrasi ke-3) mempunyai 2 (dua) orang putera yang secara berurutan, yaitu: Namora Silambok dan Guru Sohalompoan. Saya sendiri adalah marga Sibagariang dari keturunan Namora Silambok.

Namora Silambok sebagai putera sulung Ompu Sodunggaron tinggal di bona pasogit (kampung halaman) di Hutaraja Sipoholon dan berketurunan di sana. Sedangkan Guru Sohalompoan sebagai dukun sakti mandraguna pergi merantau ke Samosir untuk manandangkon hadatuonna dan berketurunan di sana.

Suatu hal yang tidak mutlak atau tidak biasanya bahwa yang sulung merantau dan yang bungsu tinggal bersama orangtua. Sehingga pendapat Ampara Ama Natalia Lumban Gaol tidak dapat menjadi bukti kesulungan yang dimiliki Marbun.

Sanggahan ke-15 (kelimabelas)

Paragraf ke-6 (keenam) pada point kedua tanggapan ketiga

…….Namun tidak demikian halnya dengan keturunan dari Sipoholon, karena lebih senang menggunakan Naipospos menjadi marganya. …….

Secara tersirat Ampara Ama Natalia Lumban Gaol menyatakan bahwa anak-anak sangat menghormati orangtuanya sehingga orangtuanya sendiri tidak boleh dinamai orang lain ketika didengar oleh anak-anaknya.

Saya berkata, Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang tak ada istilah lebih senang dan tak ada yang didurhakai dalam pemakaian marga Naipospos oleh sebagian keturunan Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang, karena Raja Naipospos adalah ayahanda mereka sendiri.

Mari kita perhatikan contoh berikut.

Raja Sumba bersaudara dengan Raja Naipospos. Raja Sumba mempunyai 2 (dua) orang putera yaitu Simamora dan Sihombing. Simamora memperanakkan Purba, Manalu, Debataraja, dan Rambe. Sihombing memperanakkan Borsak Jungjungan, Borsak Sirumonggur, Borsak Mangatasi, dan Borsak Binbinan.

Hingga saat ini belum ada orag saya temukan orang yang memakai marga Sumba. Tetapi Simamora dan Sihombing dipakai oleh sebagian keturunannya.

Apakah orang melangkahi ayahandanya sendiri? Jika hal ini terjadi, bukankah itu adalah suatu bentuk kedurhakaan?

Inilah bukti bahwa Sipoholon adalah nama daerah dan bukan nama ayahanda dari Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang.

Sanggahan ke-16 (keenambelas)

Paragraf ke-6 (keenam) pada point kedua tanggapan ketiga

…….Contoh yang paling nyata kita lihat yaitu Saudara Sibagariang Naipospos (penulis topik Kisah keturunan Naipospos) masih menggunakan Naipospos sebagai marganya tetapi penulis juga tidak tahu apakah Sibaragiang sebagai nama atau marganya.

Perlu saya informasikan bahwa nama asli saya adalah Ricardo Parulian Sibagariang. Marga yang saya gunakan adalah Sibagariang.

Memang pada NAIPOSPOS ONLINE ini, saya menggunakan Naipospos Sibagariang sebagai user ID saya.

Naipospos Sibagariang pun telah menjadi user ID (akun) saya pada wikipedia dan juga pada harian SIB.

Di samping itu, user ID saya yang lain adalah Sibagariang pada wikipedia, sibagariang24 pada wordpress, dan naipospossibagariang pada multiply. Sedangkan pada blogger saya menggunakan nama asli saya Ricardo Parulian Sibagariang sebagai user ID.

Apakah tujuan saya mencantumkan Naipospos bersama dengan Sibagariang pada user ID saya?

Inilah saya jadikan sebagai salah satu pertanda bahwa Sibagariang adalah putera Raja Naipospos. Karena seandainya Sibagariang adalah putera Sipoholon maka akan menjadi Sipoholon Sibagariang.

Tetapi yang benar adalah Naipospos Sibagariang karena Raja Naipospos mempunyai 5 (lima) orang putera dan sebagai putera I (sulung) adalah Sibagariang.

Sanggahan ke-17 (ketujuhbelas)

Paragraf ke-7 (ketujuh) pada point kedua tanggapan ketiga

…….perekat bagi kita keturunan Raja Toga Naipospos.

Maaf Ampara Ama Natalia Lumban Gaol, tolong Ampara jangan menyebutkan Raja Toga Naipospos. Maknanya akan semakin ambur-adul yaitu Raja Kumpulan Naipospos.

Mari kita perkuat pemahaman dan penguasaan kita terhadap bahasa Batak sebagai bahasa ibu.

Ada baiknya dan marilah bersama menyebut nenek moyang kita sebagai Raja Naipospos.

Kesimpulan

  • Raja Naipospos mempunyai 5 (lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu:
  1. Donda Hopol, yang merupakan cikal-bakal marga Sibagariang
  2. Donda Ujung, yang merupakan cikal-bakal marga Hutauruk
  3. Ujung Tinumpak, yang merupakan cikal-bakal marga Simanungkalit
  4. Jamita Mangaraja, yang merupakan cikal-bakal marga Situmeang
  5. Marbun, yang merupakan cikal-bakal marga Marbun Lumban Batu, Marbun Banjar Nahor, Marbun Lumban Gaol
  • Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang lahir dari ister I (pertama) boru Pasaribu dan Marbun lahir dari isteri II (kedua) boru Pasaribu.
  • Gelar lain Raja Naipospos adalah MARTUASAME. Gelar Martuasame ini didapat Raja Naipospos karena dia mengambil isteri yang kakak-beradik boru Pasaribu.

Saran

  • Jujur, saya sangat kagum terhadap ompung kita Marbun yang memperanakkan Lumban Batu, Banjar Nahor, dan Lumban Gaol. Sikap rendah hati, mengalah, tidak pendendam, dan tahan saat cobaan menerpa hidup adalah sikap yang pantas diteladani oleh siapa pun. Mungkin berkat sikap tersebutlah maka Tuhan memberikan berkat yang melimpah bagi Marbun. Sahala hagabeon yang terkandung dalam namanya nyata (tergenapi) dalam hidupnya. Marbun mempunyai keturunan yang banyak. Ini adalah suatu berkat yang harus disyukuri kepada Tuhan.
  • Mari kita untuk tidak pamalomalohon dan untuk tidak menganggap apa yang kita ketahui adalah yang paling benar. Jangan ada yang meninggikan diri dan tidak mau mengalah di antara kita.
Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”I Petrus 5:5
  • Saya sadar bahwa sanggahan dan penjelasan saya pada artikel ini tidaklah sepenuhnya sudah jelas. Saya mengundang kesediaan para Saudara untuk menyempurnakan atau pun memperbaiki artikel ini dan juga termasuk pada artikel yang telah saya tulis sebelumnya yang berjudul KISAH RAJA NAIPOSPOS DAN KETURUNANNYA, Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos, serta artikel yang saya tulis setelah artikel ini yaitu SIAPAKAH MARTUASAME ITU SEBENARNYA.
Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.I Tesalonika 5:11

Salam

Ala ni angka hahaanggingku dohot alealengku sai dohononku do: Hadameon ma di bagasan ho.Mazmur 122:8

Salam damai sejahtera bagi kita semua keturunan Raja Naipospos silima saama (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang-Marbun)

Jikalau Tuhan mengizinkan, artikel-artikel lain pun akan menyusul di NAIPOSPOS ONLINE ini.

Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.II Yohanes 1:3

Catatan kaki (referensi dan sumber)

Mansai harop do nian roha asa unang tapauba naung tarsurat di panorangion sisaotik on. Alai tapadimpudimpu jala tatambai ma natarsurat on molo tung adong nataboto taringot turiturian pinompar ni Raja Naipospos. Alai tong ma taingot unang tapauba naung tarsurat di panorangion sisaotik napinatupa on. Jala unang lupa hamu manurat goarmuna songon sipanambai dohot mual panorangionmuna di toru on. Porlu taboto molo adong turiturian taringot pangalaho naso patut sitiruon sian ompunta, unang pola tapabotohon tu situan natorop. Sae ma holan hita naumbotosa.

  • Ricardo Parulian Sibagariang, penulis artikel
  • Haran Ompu Basar Solonggaron Sibagariang (Alm), mantan Kepala Negeri Huta Raja sebagai sumber tertulis dalam buku sederhana susunannya sendiri tentang Raja Naipospos dan Keturunannya.
  • Laris Kaladius Sibagariang, seorang yang dituakan dan kepala adat di Hutaraja Sipoholon sebagai sumber lisan.
  • Maridup Hutauruk, sebagai sumber tertulis dalam artikelnya yang berjudul Apa Benar Naipospos Menurunkan 7 Marga pada http://www.naipospos.net
  • Drs. S. S. Sidabutar, sebagai sumber tertulis dalam bukunya yang berjudul Batu Naimpol tentang kosakata dalam bahasa Batak
  • W. M. Hutagalung, sebagai sumber pembanding dalam bukunya yang bejudul PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak
  • D. J. Gultom Raja Marpodang, sebagai sumber pembanding dalam bukunya yang berjudul Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak tentang marga keturunan Raja Batak

Sumber: Naipospos Online

  • Trackback are closed
  • Comments (8)
    • Anti ricardo sibagariang
    • February 1st, 2011

    Cegah penyakit ricardo sibagariang. Sembuhkan dia dari penyakit pikirannya yang sesat…

    • Jhody
    • August 12th, 2011

    Fuck Off untuk Ricardo Parulian Sibagaring.

    • Tulus Ben Gurion sibagariang
    • January 9th, 2013

    HORAS APARAH/ABANG MAJU TERUS,KEBENARAN HARUS DITEGAKKAN

      • Tulus Ben Gurion sibagariang
      • January 9th, 2013

      SALUT…..

    • bakkudu
    • March 20th, 2013

    Na pamalohu doho appara,gabe pamalo malohon. . . .?

    • Anonymous
    • May 19th, 2013

    kebenarannya adalah waktu kita di surga kita tanya nanti Tuhan Yesus.. Tuhan Yesus siapakah yang sulung dari naipospos,,

    • Jesus Lord is the true
    • May 19th, 2013

    nanti kita tanya sama Tuhan Yesus.waktu di sorga.siapa yang sulung dari anak naipospos, dr pd berdebat tidak ada gunanya dapat menimbulkan pertengkaran ( dosa )

    • Fani
    • July 30th, 2013

    On ma na pogodanghu mangalang dodak. Baru mulai pe nga salah, dia do anak ni Naipospos 5 halak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: