Archive for November, 2010

Cerita Tentang Naipospos Berdasarkan Hasandaran

File PDF Cerita Tentang Naipospos Berdasarkan Hasandaran

Horas Horas Horas

Horas… Horas… Horas… (Oleh Maridup Hutauruk)

 

  • Amangtuaku do Sibagariang
  • Dongan tubuku Lumbanbatu
  • Amangboruku do Situmeang
  • Nang pe sada hami na mardongantubu

 

  • Paribanhu do Bnjarnahor
  • Apala lae muse do Simanungkalit
  • Sude do hita rap sijalo tuhor
  • Jala dang adong nanggo sada na mangholit

 

  • Anggiku do Hutauruk
  • Gabe tulang do Lumbangaol
  • Boasa sude sai murukmuruk
  • Hape dang adong di hita partuturan na maol

 

  • Marhaha maranggi do Marbun tu  Sipoholon
  • Jala Sude do pinompar ni Naipospos
  • Marsada ma hita asa gabe bolon
  • Hita dok ma tolu hali, horas… horas… Horassss!

Perbudakan Istri Batak

PDF file Perbudakan Istri Batak-1

Aku Si Raja Naipospos

Oleh: Maridup Hutauruk 

  • Sudah lama aku berniat melanglang ke ujung buana
  • Aku harus punya tubuh yang kuat dan perut kenyang
  • Niat yang kuat tergambar dalam wajahku yang merona
  • Aku bersemangat karena dorongan saudaraku Situmeang

 

  • Niat itu tak terbendung terkumpul di otak
  • Satu persatu sanak saudara yang kukasihi ku-haol
  • Semua beban bekal kutumpukan di pundak
  • Semuanya atas bantuan saudaraku Lumbangaol

 

  • Awalnya sungkan untuk melangkah dengan beban berat
  • Karena beban itu sedemikian berat sehingga melukai kulit
  • Aku layakkan diri seperti konglomerat yang sebenarnya melarat
  • Untungnya semua itu tertutupi oleh saudaraku Simanungkalit

 

  • Mulailah aku menyusuri jalan-jalan setapak
  • Banyak peristiwa kutemukan dimana tubuh menyadi lusuh dan kotor
  • Tetapi aku masih mampu melangkah setapak demi setapak
  • Dengan mengandalkan tongkat pemberian saudaraku Banjarnahor

 

  • Tak ada lagi waktu untuk berdiam diri
  • Tantangan harus diatasi dan jangan sampai jatuh terpuruk
  • Katanya perjuangan harus diatasi walau seorang diri
  • Itulah nasihat dari saudaraku si Maridup Hutauruk

 

  • Jalan itu semakin parah penuh onak dan duri
  • Menaiki gunung menuruni lembah berbatubatu
  • Tetapi dengan niat dan tekat semuanya harus kususuri
  • Karena aku sudah diberi nasihat oleh saudaraku Lumbanbatu

 

  • Tujuan itu sudah tampak yang kutatap dari kejauhan
  • Adaseberkas harapan yang membuat hati semakin riang
  • Sekarang sampailah aku menjejakkan kaki di harbangan
  • Aku merasa tersanjung disambut saudaraku Sibagariang

 

  • Sudah saatnya aku membersihkan diri atas dasar holong na bolon
  • Karena aku merasa senang semua saudaraku tambun-tambun
  • Ayo kita semua mandi ke aek-rangat di Sipoholon
  • Jangan takut semua biaya ditanggung saudaraku Marbun

 

  • Sekarang aku sudah temukan jati diri melampaui negri-negri
  • Semua saudara berkumpul sonang sohariboriboan jala horas-horas
  • Dada yang tadinya penuh sesak sudah kulepaskan dari dengki dan iri
  • Karena aku pewaris kerajaan dari ompunta Si Raja Naipospos

Batak Punya Marga

Oleh: Maridup Hutauruk

“Ada beberapa kata-kata dalam bahasa Indonesia yang dikaitkan dengan kata Marga misalnya; Marga-marga sebagai sebutan identitas kelompok pada beberapa suku di Indonesia seperti Batak, Nias, Flores, Toraja, Manado, Ambon, Irian dan lain sebagainya. Juga ada kata Jasa Marga, Sapta Marga, Marga Satwa, margarine – eeh.. ini tidak masuk dalam bahasan.”

Paragraph diatas dipetik dari bahasa pembuka artikel yang tertulis dalam format pdf yang boleh anda klik untuk mengetahui isinya yaitu tentang ‘Marga’ dalam komunitas Batak.

Sebenarnya kata marga dalam kosa kata Batak diperkirakan muncul karena adanya interaksi dengan Bangsa Tamil dari India Selatan, yaitu awal bermukimnya 1500 tentara Kerajaan Chola ke Tanah Batak sebelum menyerang Sriwijaya di tahun 1025 M. Kerajaan Chola yang dimaksud adalah kerajaan semasa pemerintahannya dipegang oleh Rajendra Chola-I yang berkuasa tahun 1012 – 1044 M, dan Sriwijaya dibawah pemerintahan Wijaya Tunggawarman.

Pembuktian adanya interaksi Bangsa Tamil dan Bangsa Batak adalah berdasarkan peninggalan arkeologis stone incription di Candi Portibi dimana skripsi yang diperkirakan ditulis di tahun 1208 telah diterjemahkan oleh Professor Nilakantisasri dari Kepurbakalaan Madras. Pada saat mereka mendaratkan tentaranya di kawasan Barus, mereka sudah menemukan kerajaan Batak bernama Pannai (Pane). Komunitas Batak sudah eksis dan bukan berasal dari Melayu Sriwijaya.

Tetapi keanehan yang muncul di sebagian komunitas Batak yang mengakui bahwa Bangsa Batak berasal dari Sriwijaya sekitar tahun 1200-an? Inikan sebuah pendapat yang konyol dan menyesatkan. Kalau kita mau membuka lembaran sejarah lebih kebelakang bahwa Bangsa Batak adala Proto Melayu, sedang suku-suku Melayu lainnya adalah Deutro Melayu, apakah lantas anaknya melahirkan bapaknya?

Apabila Bangsa Batak pada waktu itu dibawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dan Siraja Batak (Oknum raja-raja Batak) menjadi officer Kerajaan Sriwijaya adalah sangat wajar karena Kerajaan Sriwijaya yang besar itu bukan saja menguasai Nusantara, bahkan Asia Tenggara, tetapi bukan lantas orang Batak berasal dari Sriwijaya? Walau ada satu dua kosa-kata yang sama, tetapi adat-istiadat yang jauh berbeda, serta memiliki tulisan original yang mereka tidak miliki.

Interaksi bangsa India dari selatan ini (Tamil) sebenarnya bukan yang pertama dilakukan semasa Rajendra Chola-I ini, bahkan sekitar abad-2 dan -3 Sebelum Masehi sudah ada interaksi perdagangan dengan Sumatra. Oleh karena itu sangat dimungkinkan terjadi pula interaksi sosial berupa perkawinan sehingga marga-marga Batak ada yang berkaitan dengan India Selatan ini sebagai contoh Brahmana, Cholia, Pandia, dll. dan termasuk mulai dari Barus, Pakpak, Tanah Karo, sebagai jalur darat menuju Sriwijaya.

Apabila para pendatang dari India selatan ini berinteraksi perkawinan dengan Bangsa Batak, sudah barang tentu mereka mengikuti pula kultur yang ada di Tanah Batak, semisal mereka akan dimargakan dengan embel tambahan identitas Tamil, lalu mereka diberikan hak ulayat di Tanah Batak, kemudian beranak pinak di Tanah Batak menjadi komunitas suku-suku Batak, lantas sekarang ini ada indikasi tidak mengakuinya sebagai bagian dari Bangsa Batak. Apakah contoh sejarah kecil akan berulang seperti Pasaribu yang hengkang dari Silindung yang kemudian jatuh ketangan menantunya Naipospos yang kemudian setengahnya dianeksasi oleh Siopat Pusoran?

Walaupun sekarang ini kata marga diartikan secara sangat sederhana hanya sebagai identitas kelompok, tetapi kata marga sesungguhnya yang berasal dari bahasa Sanskerta diartikan sebagai ‘jalan menuju suatu tujuan mulia oleh jiwa dan raga (the path of mind-body-soul)’.

Sekerang terserah kita untuk mengartikan pengertian marga bagi Bangsa Batak; Apakah hanya sebagai identitas kelompok saja? Atau sebagai ‘jalan menuju suatu tujuan mulia oleh jiwa dan raga (the path of mind-body-soul)’? Bagi penulis lebih condong untuk mengartikan marga seperti pengertian yang mendalam tadi, dan oleh karena itu artikel ini dijudulkan dengan Sakti Marga.

Sumber:

  1. Naipospos Online
  2. Batak One