Archive for the ‘ Na Asing: ’ Category

Selamat Natal & Tahun Baru

Advertisements

A N A K

A N A K

Oleh: Labariston Hutauruk

Anakmu bukan milikmu,
mereka putra putri sang hidup
Lewat engkau mereka lahir, tapi bukan hakmu

Berikan mereka kasih sayuangmu, tapi jangan bentuk pikiranmu
Sebab pada mereka ada alam pikiran sendiri
Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan
Yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam impian

Kau boleh berusaha menyerupai mereka
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur
Pun tidak tenggelam dimasa lampau

Kaulah busur, dan anak anakmulah anak panah yang meluncur
Sang pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian
Dia merentangmu dengan kekuasaanNYA
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan sang pemanah
Sebab DIA mengasihi mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNYA busur yang mantap.

Batak Punya Marga

Oleh: Maridup Hutauruk

“Ada beberapa kata-kata dalam bahasa Indonesia yang dikaitkan dengan kata Marga misalnya; Marga-marga sebagai sebutan identitas kelompok pada beberapa suku di Indonesia seperti Batak, Nias, Flores, Toraja, Manado, Ambon, Irian dan lain sebagainya. Juga ada kata Jasa Marga, Sapta Marga, Marga Satwa, margarine – eeh.. ini tidak masuk dalam bahasan.”

Paragraph diatas dipetik dari bahasa pembuka artikel yang tertulis dalam format pdf yang boleh anda klik untuk mengetahui isinya yaitu tentang ‘Marga’ dalam komunitas Batak.

Sebenarnya kata marga dalam kosa kata Batak diperkirakan muncul karena adanya interaksi dengan Bangsa Tamil dari India Selatan, yaitu awal bermukimnya 1500 tentara Kerajaan Chola ke Tanah Batak sebelum menyerang Sriwijaya di tahun 1025 M. Kerajaan Chola yang dimaksud adalah kerajaan semasa pemerintahannya dipegang oleh Rajendra Chola-I yang berkuasa tahun 1012 – 1044 M, dan Sriwijaya dibawah pemerintahan Wijaya Tunggawarman.

Pembuktian adanya interaksi Bangsa Tamil dan Bangsa Batak adalah berdasarkan peninggalan arkeologis stone incription di Candi Portibi dimana skripsi yang diperkirakan ditulis di tahun 1208 telah diterjemahkan oleh Professor Nilakantisasri dari Kepurbakalaan Madras. Pada saat mereka mendaratkan tentaranya di kawasan Barus, mereka sudah menemukan kerajaan Batak bernama Pannai (Pane). Komunitas Batak sudah eksis dan bukan berasal dari Melayu Sriwijaya.

Tetapi keanehan yang muncul di sebagian komunitas Batak yang mengakui bahwa Bangsa Batak berasal dari Sriwijaya sekitar tahun 1200-an? Inikan sebuah pendapat yang konyol dan menyesatkan. Kalau kita mau membuka lembaran sejarah lebih kebelakang bahwa Bangsa Batak adala Proto Melayu, sedang suku-suku Melayu lainnya adalah Deutro Melayu, apakah lantas anaknya melahirkan bapaknya?

Apabila Bangsa Batak pada waktu itu dibawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dan Siraja Batak (Oknum raja-raja Batak) menjadi officer Kerajaan Sriwijaya adalah sangat wajar karena Kerajaan Sriwijaya yang besar itu bukan saja menguasai Nusantara, bahkan Asia Tenggara, tetapi bukan lantas orang Batak berasal dari Sriwijaya? Walau ada satu dua kosa-kata yang sama, tetapi adat-istiadat yang jauh berbeda, serta memiliki tulisan original yang mereka tidak miliki.

Interaksi bangsa India dari selatan ini (Tamil) sebenarnya bukan yang pertama dilakukan semasa Rajendra Chola-I ini, bahkan sekitar abad-2 dan -3 Sebelum Masehi sudah ada interaksi perdagangan dengan Sumatra. Oleh karena itu sangat dimungkinkan terjadi pula interaksi sosial berupa perkawinan sehingga marga-marga Batak ada yang berkaitan dengan India Selatan ini sebagai contoh Brahmana, Cholia, Pandia, dll. dan termasuk mulai dari Barus, Pakpak, Tanah Karo, sebagai jalur darat menuju Sriwijaya.

Apabila para pendatang dari India selatan ini berinteraksi perkawinan dengan Bangsa Batak, sudah barang tentu mereka mengikuti pula kultur yang ada di Tanah Batak, semisal mereka akan dimargakan dengan embel tambahan identitas Tamil, lalu mereka diberikan hak ulayat di Tanah Batak, kemudian beranak pinak di Tanah Batak menjadi komunitas suku-suku Batak, lantas sekarang ini ada indikasi tidak mengakuinya sebagai bagian dari Bangsa Batak. Apakah contoh sejarah kecil akan berulang seperti Pasaribu yang hengkang dari Silindung yang kemudian jatuh ketangan menantunya Naipospos yang kemudian setengahnya dianeksasi oleh Siopat Pusoran?

Walaupun sekarang ini kata marga diartikan secara sangat sederhana hanya sebagai identitas kelompok, tetapi kata marga sesungguhnya yang berasal dari bahasa Sanskerta diartikan sebagai ‘jalan menuju suatu tujuan mulia oleh jiwa dan raga (the path of mind-body-soul)’.

Sekerang terserah kita untuk mengartikan pengertian marga bagi Bangsa Batak; Apakah hanya sebagai identitas kelompok saja? Atau sebagai ‘jalan menuju suatu tujuan mulia oleh jiwa dan raga (the path of mind-body-soul)’? Bagi penulis lebih condong untuk mengartikan marga seperti pengertian yang mendalam tadi, dan oleh karena itu artikel ini dijudulkan dengan Sakti Marga.

Sumber:

  1. Naipospos Online
  2. Batak One

Sapa

Selamat Pagi!

               Selamat Siang!

                                 Selamat Sore!

                                                   Selamat Malam!

Selamat Sentausa Semuanya Sesama Manusia!

Sapaan ini aku alamatkan kepada semua yang masih mau menganggap bahwa aku masih sebagai manusia yang saat ini ‘ada‘ karena ‘ada ayah-ibu’, karena ‘ada kakek-nenek’, karena ‘ada leluhur’, karena ‘ada bona atau awal’ dari segalanya.

Aku terlahir dan mengenal siapa aku, siapa ayah-ibuku, siapa kakek-nenekku, tetapi siapa yang melahirkan kakek-nenekku? kemudian siapa..? kemudian siapa..? kemudian siapa..? dan seterusnya… dan seterusnya… dan seterusnya…

Jadi sapa ini bukan sembarang sapa, yah… sapala…, karena ada sapata.